Omzet Ratusan Juta, Pengrajin Peti Mati: Sebelum Pandemi Sehari Cuma 1 Terjual

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) dan membawa peti mati sebagai ilustrasi agar masyarakat tidak datang berziarah ke Taman Pemakaman Umum (TPU) di tengah masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). (ANTARA/HO/instagram @tamanhutandki)

    Petugas menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) dan membawa peti mati sebagai ilustrasi agar masyarakat tidak datang berziarah ke Taman Pemakaman Umum (TPU) di tengah masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). (ANTARA/HO/instagram @tamanhutandki)

    TEMPO.CO, Bogor - Pengrajin peti mati di Gunungputri, Kabupaten Bogor memperoleh peningkatan omzet berkali lipat selama pandemi Covid-19 hingga ratusan juta rupiah. Menurut pengrajin itu, pemesan peti mati datang dari pelbagai kalangan, baik instansi atau perorangan.

    Wiwi, pengrajin peti mati dari Bogor Brand Creatif disingkat BBC menyebut selama pandemi ini per hari bisa memproduksi hingga 30 unit dengan pemesanan dan siap antar 20 peti mati. “Paling banyak yang memesan adalah Rumah Sakit, untuk pemulasaraan jenazah Covid-19,” kata Wiwi, Ahad 6 Juni 2021.

    Selain rumah sakit, pemesan terbanyak berikutnya adalah Rumah Duka.

    Wiwi menyebut, semula hanya memproduksi peti untuk wilayah Jabodebek. Sejak membuka pesanan secara online, pemesan dari luar Jabodebek banyak yang memesan peti mati padanya.

    ADVERTISEMENT

    “Semisal kemarin, saya kirim 100 unit ke Banten. Kebutuhannya sama untuk Covid,” kata Wiwi.

    Sebelum wabah Covid-19 melanda seluruh wilayah Indonesia, BBC per hari setidaknya hanya menjual satu unit peti mati. Pesanan dan penjualan hingga puluhan peti saat ini diakuinya memberi keuntungan bagi dirinya.

    “Dibilang untung, iya. Tapi, kalau bicara kemanusiaan, saya berharap pandemi ini segera berakhir dan kembali normal,” ucap Wiwi.

    Untuk harga yang dipatok, Wiwi menyebut peti mati dijualnya dengan harga variatif, tergantung ukuran dan ukiran yang dipesan. Harganya mulai dari 600 ribu hingga 6 juta rupiah. “Bisa memesan via online, atau datang langsung jika berkenan,” kata Wiwi.

    M.A MURTADHO

    Baca juga: Darurat Pandemi Covid-19 DKI: Order Peti Mati di Jakarta Timur Naik 3 Kali Lipat


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti Istilah Kebijakan Pemerintah Atasi Covid-19, dari PSBB sampai PPKM

    Simak sejumlah istilah kebijakan penanganan pandemi Covid-19, mulai dari PSBB hingga PPKM, yang diciptakan pemerintah sejak 20 April 2020.