Kasus Covid-19 Depok Melejit Terjadi 350 Positif Sehari, Penyebabnya?

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas memeriksa pengendara di pos penyekatan Cilangkap, Depok, Jawa Barat, Rabu, 19 Mei 2021. Sebagai upaya upaya untuk mencegah potensi klaster baru Covid-19 dari arus balik pemudik, penyekatan tetap dilakukan hingga 24 Mei 2021 dengan total ada 14 titik lokasi pos penyekatan di Jabodetabek. Dalam penyekatan tersebut petugas gabungan melakukan pemeriksaan ketat dengan menyediakan rapid tes Antigen bagi pengendara yang belum memiliki surat bebas COVID-19 guna mengantisipasi penyebaran COVID-19. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Petugas memeriksa pengendara di pos penyekatan Cilangkap, Depok, Jawa Barat, Rabu, 19 Mei 2021. Sebagai upaya upaya untuk mencegah potensi klaster baru Covid-19 dari arus balik pemudik, penyekatan tetap dilakukan hingga 24 Mei 2021 dengan total ada 14 titik lokasi pos penyekatan di Jabodetabek. Dalam penyekatan tersebut petugas gabungan melakukan pemeriksaan ketat dengan menyediakan rapid tes Antigen bagi pengendara yang belum memiliki surat bebas COVID-19 guna mengantisipasi penyebaran COVID-19. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Depok – Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kota Depok mencatat terjadi lonjakan kasus Covid-19 yang sangat signifikan pada Minggu 13 Juni 2021.

    Tidak tanggung-tanggung, lonjakan itu mencapai 350 kasus dalam satu hari, angka fantastis yang pernah tercatat dalam 3 bulan belakangan. 

    Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kota Depok, Dadang Wihana mengatakan, akibat dari penambahan kasus itu, berimbas pula pada Bed Occupancy Ratio (BOR) pada rumah sakit yang ditunjuk sebagai tempat isolasi. 

    “Keterpakaian ICU Covid-19 saat ini 64,29 persen atau terpakai 72 dari 112 tempat tidur. Sementara keterpakaian tempat tidur isolasi sebanyak 477 dari 852 yang tersedia atau 55,99 persen, trennya meningkat,” kata Dadang dikonfirmasi, Senin 14 Juni 2021.

    ADVERTISEMENT

    Dadang mengklaim, penyebab kembali meroketnya kasus Covid-19 di Kota Depok, karena saat ini sudah banyak masyarakat yang abai terhadap protokol kesehatan dan melalaikan himbauan-himbauan pemerintah terkait pembatasan. 

    “Saat ini memang aktivitas warga tinggi, warga disinyalir saat ini sudah seperti normal. Coba lihat kepadatan lalu lintas, di pusat-pusat keramaian sudah seperti biasa,” kata Dadang. “Padahal kita memang ada pengaturan, contoh di sekitar setu, meski pol pp sudah melakukan pengawasan dan tidak boleh ada aktivitas tapi warga tetap melaksanakan aktivitas.”

    Selain itu pula, kata Dadang, metode baru yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan untuk mendata kasus positif Covid-19, menjadi penyebab lain peningkatan kasus yang sangat signifikan.

    “Berdasarkan pemetaan Kementerian Kesehatan, Kota Depok masuk kategori B untuk mempercepat testing di daerah, (sehingga) yang rapid test antigennya positif, maka dikategorikan positif Covid-19, terutama bagi mereka yang kontak erat,” kata Dadang.

    Namun begitu, lanjut Dadang, kebijakan baru Kemenkes itu tidaklah terlalu berdampak, jika masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan dan menjalankan setiap himbauan-himbauan pemerintah.

    “Dampak pergerakan orang itulah yang lebih banyak menyebabkan penularan Covid-19. Dan klaster kasus Covid-19 masih klaster keluarga yang paling dominan,” kata Dadang.

    #Jagajarak #Cucitangan #Pakaimasker 

    Baca juga : Kasus Covid-19 Kota Bogor Melonjak, Bima Arya: Bisa Disebut Lampu Kuning

    ADE RIDWAN YANDWIPUTRA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Potongan Janggal Hukuman Djoko Tjandra, Komisi Yudisial akan Ikut Turun Tangan

    Pengadilan Tinggi DKI Jakarta mengabulkan banding terdakwa Djoko Tjandra atas kasus suap status red notice. Sejumlah kontroversi mewarnai putusan itu.