Anies Baswedan Siap Tarik Rem Darurat? Simak Ragam Respons Warga DKI

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga tampak mengenakan masker saat melintas di jembatan penyeberangan orang (JPO), di tengah masa pandemi di kawasan perkantoran SCBD di Jakarta, Senin, 27 Juli 2020.  Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan perkantoran kini menjadi salah satu klaster penyumbang kasus Covid-19 di Indonesia. TEMPO/Hilman Fathurrahman w

    Warga tampak mengenakan masker saat melintas di jembatan penyeberangan orang (JPO), di tengah masa pandemi di kawasan perkantoran SCBD di Jakarta, Senin, 27 Juli 2020. Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan perkantoran kini menjadi salah satu klaster penyumbang kasus Covid-19 di Indonesia. TEMPO/Hilman Fathurrahman w

    Jakarta - Penyebaran kasus Covid-19 di DKI Jakarta melambung dalam 10 hari belakangan ini yang memicu wacana Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan diharap segera mengambil langkah drastis.

    Terlebih, varian virus Covid-19 baru sudah masuk ke wilayah ibu kota.

    Sejumlah pihak sudah mendesak Gubernur Anies Baswedan untuk segera mengambil langkah cepat termasuk rem darurat demi menekan tingginya angka kasus aktif Covid-19 di ibu kota.

    Namun, Wagub DKI Ahmad Riza Patria mengatakan kepada wartawan di kompleks Balai Kota pada Rabu, 16 Juni 2021 bahwa pihaknya masih akan belum akan menarik rem darurat atau memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) secara ketat.

    ADVERTISEMENT

    Abel, 25 tahun, sehari-hari pekerja di salah satu perusahaan bidang teknologi informasi dan komunikasi. Selama pandemi, perusahaan tempat ia bekerja tetap memberlakukan giliran kerja di kantor atau WFO secara berkala.

    “Pemerintah seharusnya tarik rem darurat aja. Itu semua demi kesehatan masyarakat sendiri dan mengurangi jumlah lonjakan pasien Covid-19 setiap harinya. Karena dengan adanya lockdown atau PSBB ketat, maka masyarakat akan mengurangi aktivitas diluar rumah yang tidak perlu,” ujar Abel kepada Tempo pada Kamis, 17 Juni 2021.   

    Johanna (21), merupakan pekerja di salah satu perusahaan farmasi ternama di Indonesia.

    Sama dengan Abel, perusahaannya juga menerapkan WFO selama pandemi. Johanna juga setuju dengan wacana penerapan PSBB ketat, namun ia meragukan kesiapan dalam pelaksanaannya.

    “Kalau untuk mengurangi angka kasus Covid-19, memang menurut saya harus PSBB. Tetapi apakah pemerintah sudah siap untuk melaksanakannya? Dalam artian apakah mereka akan sungguh-sungguh serius dalam menerapkan sanksi dan bertanggung jawab bagi dampak-dampak ekonominya?” kata Johanna kepada Tempo, pada Kamis 17 Juni 2021.

    Tidak hanya pemerintah, Johanna juga meragukan kesiapan warga Jakarta terkait penerapan PSBB ketat.

    “Sekarang saja kita bisa lihat orang-orang sudah enggak takut sama covid, kan. Yakin mereka bisa patuh sama peraturan PSBB? Saya jamin masyarakat enggak akan bisa patuh sepenuhnya,” kata Johanna terkait wacana Anies Baswedan diharap tarik rem darurat.

    Baca juga : PSI Desak DKI Tarik Rem Darurat, Wagub: Terima Kasih, Kami Kaji 

    ZEFANYA APRILIA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Terlalu Cepat Makan, Bisa Berbahaya

    PPKM level4 mulai diberlakukan. Pemerintah memberikan kelonggaran untuk Makan di tempat selama 20 menit.