Dari Balik Dinding Wisma Atlet, Cerita Satu Keluarga Positif Covid-19

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gedung RSDC Wisma Atlet Kemayoran di Jakarta, Rabu, 16 Juni 2021. Pengelola RS ini telah menambah 1.400 tempat tidur untuk mengantisipasi lonjakan kasus. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Gedung RSDC Wisma Atlet Kemayoran di Jakarta, Rabu, 16 Juni 2021. Pengelola RS ini telah menambah 1.400 tempat tidur untuk mengantisipasi lonjakan kasus. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Ketika diperiksa dengan oximeter, kadar oksigen dalam darah Santi terbilang masih aman, 96 persen. Kedua anaknya yang berusia 14 dan 10 tahun tak mengalami gejala berat, tersisa batuk kecil.

    Sang suami, Toni, menunjukkan kondisi lebih parah. Oximeter menunjukkan angka 90 persen. Ia lalu dirujuk ke Wisma Atlet Kemayoran—yang lokasinya tak jauh dengan Wisma Atlet Pademangan--malam itu juga. Akhirnya mereka berpisah.

    Sesampainya di Wisma Atlet Kemayoran pukul 20.40, Toni harus melewati proses registrasi lagi. Hingga tengah malam, pukul 00.27, ia masih belum juga diproses. Tunggu punya tunggu, baru sekitar pukul 02.00 keesokan harinya, dia baru bisa memasuki kamar.

    Petugas menyiapkan ruang isolasi bagi pasien Covid-19 di tower 8 Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Pademangan, Jakarta, Selasa, 15 Juni 2021. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Bersama satu orang pasien lainnya, Toni menempati sebuah kamar di Wisma Atlet Kemayoran. Tabung oksigen tak lagi dipakainya. Kadar oksigen di dalam darahnya berangsur membaik, kini di angka 99 persen.

    Toni bercerita langsung dimasukkan ke grup WhatsApp sebagai ajang komunikasi di antara para pasien dan pengelola Wisma Atlet. Hingga kini tak ada masalah dalam urusan makanan ataupun obat serta vitamin karena sudah diberikan secara teratur. Namun sejak semalam masuk Wisma Atlet, Toni belum bertemu dengan dokter.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Selamat Jalan KPK

    Berbagai upaya melemahkan posisi KPK dinilai tengah dilakukan. Salah satunya, kepemimpinan Firli Bahuri yang dinilai membuat kinerja KPK jadi turun.