Sepi Dihajar Pandemi, Pelaku Kawin Kontrak di Puncak Alih Profesi

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para tersangka dan korban yang dihadirkan saat konferensi pers pengungkapan kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dengan tujuan eksploitasi seksual di Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat, 14 Februari 2020. Para pelaku menawarkan beragam paket dengan harga beragam kepada para pelanggannya. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Para tersangka dan korban yang dihadirkan saat konferensi pers pengungkapan kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dengan tujuan eksploitasi seksual di Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat, 14 Februari 2020. Para pelaku menawarkan beragam paket dengan harga beragam kepada para pelanggannya. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Bogor - Pandemi Covid-19 ikut menghajar bisnis kawin kontrak yang biasa terjadi di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Bisnis kawin kontrak ini biasanya ramai di bulan Mei hingga Juli atau dikenal sebagai musim Arab.

    Kawin kontrak biasanya dilakukan oleh wisatawan dari Timur Tengah. Namun sejak pandemi melanda, wisatawan dari Arab yang datang ke Puncak itu pun sepi. Akibatnya perempuan yang biasa melayani jasa kawin kontrak ini pun banyak beralih profesi.

    "Ada yang kembali kerja ke pabrik, ada pula yang merantau ke Jakarta dan Bekasi jadi PL (pemandu lagu)," kata ADY, seorang tukang ojek yang sering antar jemput perempuan pengantin kawin kontrak kepada Tempo. Selasa, 22 Juni 2021.

    Pria asal Sukabumi ini mengisahkan, sebelum pandemi banyak turis Arab datang ke Puncak. Ia mengatakan, dalam sehari biasanya ia bisa mengantar calon pengantin  2 sampai 3 orang, terutama di bulan Mei sampai Juli dan September-November.

    ADVERTISEMENT

    Bahkan menurut ADY, praktik kawin kontrak tidak hanya dilakukan di kawasan Puncak. ADY menyebut, terkadang calon pengantin pria ada juga yang mendatangi rumah si pengantin di desanya.

    "Kebanyakan sih kawinnya di bawah tangan, mereka dibeliin sawah, rumah dan mobil, kalau yang di kampung. Beda kalau yang di Puncak, mereka hanya dikasih uang nikah dan biaya sehari-hari," kata pria 38 tahun itu. 

    Sepinya bisnis kawin kontrak itu diakui juga oleh NS. Wanita itu kini mengaku tak lagi menggeluti bisnis tersebut. "Saat ini lagi sepi. Banyak teman saya pulang kampung," ujar dia. Ia pun mengaku takut ditangkap petugas.

    Namun begitu, ada juga temannya yang kini menjalani praktik prostitusi online atau berpura-pura sebagai sales promotion girl tapi sambil menjalankan praktik prostitusi.

    Ia mengisahkan, jika ikut bisnis kawin kontrak ini mereka akan difasilitasi hidupnya. "Mungkin karena sudah tahu enaknya, di saat musim Arab sepi gini mereka memilih itu untuk menutup kebutuhan hidup mereka yang mewah," kata perempuan itu. 

     Baca juga: Kawin Kontrak di Puncak Dibabat, Turis Arab Pulang Lebih Cepat

    M.A MURTADHO


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Terlalu Cepat Makan, Bisa Berbahaya

    PPKM level4 mulai diberlakukan. Pemerintah memberikan kelonggaran untuk Makan di tempat selama 20 menit.