Paspampres Marah, Kapolres Jakbar Tak Terjunkan Polisi Berpakaian Preman

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota Polisi mengacungkan jempol pada pengendara mobil yang menunjukkan surat undangan vaksin COVID-19 di Gelora Bung Karno, Senayan saat berlangsungnya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di kawasan Bundaran Senayan, Jakarta, Sabtu 3 Juli 2021. Petugas akan memberikan akses untuk melintas di titik penyekatan PPKM Darurat di 63 titik di wilayah Jadetabek yang berlaku dari 3 - 20 Juli 2021 hanya yang masuk kategori sektor-sektor esensial. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

    Anggota Polisi mengacungkan jempol pada pengendara mobil yang menunjukkan surat undangan vaksin COVID-19 di Gelora Bung Karno, Senayan saat berlangsungnya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di kawasan Bundaran Senayan, Jakarta, Sabtu 3 Juli 2021. Petugas akan memberikan akses untuk melintas di titik penyekatan PPKM Darurat di 63 titik di wilayah Jadetabek yang berlaku dari 3 - 20 Juli 2021 hanya yang masuk kategori sektor-sektor esensial. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Kapolres Jakarta Barat Komisaris Besar Ady Wibowo memutuskan tidak akan menerjunkan personel berpakaian preman terlebih dahulu usai kasus kericuhan dengan Paspampres. Keributan itu terjadi antara polisi dengan Paspampres di pos penyekatan PPKM Darurat di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, Rabu siang. 

    "Untuk yang berpakaian preman sementara tidak kami ikutkan penyekatan agar tidak salah paham di lapangan," ujar Ady saat dihubungi Tempo, Kamis, 8 Juli 2021. 

    Selain itu, Kapolres Jakarta Barat juga melakukan evaluasi terhadap kinerja anak buahnya di lapangan. Salah satunya soal cara petugas menangani masyarakat agar lebih ramah. 

    "Kami evaluasi di lapangan, penekanan untuk lebih baik dan humanis, tidak boleh sewenang-wenang," kata Ady.

    Kericuhan antara anggota Pasukan Pengamanan Presiden dengan polisi ini berawal saat seorang anggota Paspampres bernama Praka Izroi Gajah dicegat di pos penyekatan PPKM Darurat di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, pada Rabu kemarin. Alasannya, Izroi tak mau menunjukkan kartu tanda anggota (KTA) Paspampres kepada petugas yang berjaga. 

    Petugas gabungan memeriksa identitas pengendara sepeda motor dalam rangka Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Jalan Raya Bogor, Jakarta, Jumat, 2 Juli 2021. Penyekatan dilakukan di 63 titik wilayah Jadetabek yang berlaku dari 3 - 20 Juli 2021. ANTARA/Muhammad Adimaja

    Izroi kemudian sempat adu mulut dengan petugas dan mengatakan tak mau memperlihatkan KTA, karena petugas tersebut tidak berpakaian dinas. Izroi menyampaikan sedang buru-buru karena harus mengikuti apel dan akan bertugas. 

    Adu mulut itu kemudian berakhir dengan kericuhan. Petugas memiting leher Izroi dan membawanya. Setelah sempat berdebat, Izroi akhirnya menunjukkan KTA tersebut hingga akhirnya diperbolehkan melintas. 

    Namun pada malam harinya, rekan Izroi yang berjumlah puluhan orang mendatangi kantor Polres  Jakarta Barat di Jalan Letjen S. Parman. Mereka menuntut bertemu dengan anggota polisi yang menghalangi Izroi melintas. 

    Puluhan anggota Paspampres itu akhirnya membubarkan diri setelah pihak kepolisian berjanji akan datang langsung ke Mako Paspampres di Jalan Tanah Abang untuk minta maaf. 

    "Sudah selesai permasalahannya, memang ada kesalahpahaman anggota di lapangan saat penyekatan. Saya sudah menghadap Komandan Paspampres," kata Ady. 

    Baca juga: Puluhan Paspampres Gruduk Polres Jakarta Barat, Kapolres: Ada Kesalahpahaman



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Selamat Jalan KPK

    Berbagai upaya melemahkan posisi KPK dinilai tengah dilakukan. Salah satunya, kepemimpinan Firli Bahuri yang dinilai membuat kinerja KPK jadi turun.