Cari Untung di Pandemi, Pria Ini Ubah Apar Jadi Tabung Oksigen Pasien Covid-19

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Barang bukti berupa tabung alat pemadam api ringan alias Apar yang diisi oksigen untuk dijual ke pasien Covid-19 ditunjukkan polisi saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jumat, 30 Juli 2021. TEMPO/M YUSUF MANURUNG

    Barang bukti berupa tabung alat pemadam api ringan alias Apar yang diisi oksigen untuk dijual ke pasien Covid-19 ditunjukkan polisi saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jumat, 30 Juli 2021. TEMPO/M YUSUF MANURUNG

    TEMPO.CO, Jakarta - Di tengah kelangkaan tabung oksigen untuk pasien Covid-19, pria berinisial WS alias KR mencoba mencari untung. Dia memodifikasi tabung alat pemadam api ringan alias Apar menjadi tabung oksigen.

    "Dia bersihkan dengan air saja, kemudian dicat warna putih," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Yusri Yunus, Jumat, 30 Juli 2021.

    Seperti diketahui, tabung Apar biasanya berwarna merah. Tabung itu berisi CO2 untuk menjinakkan api. Sementara tabung untuk pasien Covid-19 biasa berisi O2.

    Setelah tampilan Apar sudah mirip tabung oksigen, tersangka WS mendatangi tempat isi-ulang oksigen. Dia mengisi tabung-tabungnya dengan oksigen dan dijual. Harga setiap tabung dipatok sebesar Rp 5 juta. Padahal harga asli tabung Apar per unit hanya berkisar Rp 750 ribu.

    "Ini sekarang kami sita 144 tabung," kata Yusri.

    Yusri menjelaskan bahwa tindakan WS sangat berbahaya. Tabung oksigen dan Apar punya desain berbeda sehingga tidak bisa saling menggantikan. Tabung oksigen disebut lebih tebal untuk menahan tekanan.

    "Karena ketebalannya berbeda, ini bisa meledak dan bisa membahayakan," kata Yusri.

    Tidak cuma potensi meledak, tabung Apar yang diisi oksigen juga diduga berpotensi menjadi racun bagi siapapun yang menggunakannya. Namun untuk dugaan racun ini, Yusri mengatakan akan meminta pendapat ahli.

    Yusri mengatakan tersangka pengubah Apar jadi tabung oksigen ini ditangkap pada 27 Juli 2021. Dia dijerat dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan dan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 Tentang Perdagangan.

    Baca juga: Geram Ada Pelaku Impor Tabung Oksigen Ilegal, Anies Baswedan: Pajang ke Publik

    M YUSUF MANURUNG


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.