Tata Kota Jakarta Terburuk di Dunia, Pakar: Menuju Bunuh Diri Ekologis

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Deretan gedung bertingkat tersamar kabut polusi udara di Jakarta, Selasa, 20 April 2021. Berdasarkan data

    Deretan gedung bertingkat tersamar kabut polusi udara di Jakarta, Selasa, 20 April 2021. Berdasarkan data "World Air Quality Index" pada 20 April pukul 10.00 WIB tingkat polusi udara di Jakarta berada pada angka 174 yang menunjukkan bahwa kualitas udara di Ibu Kota termasuk kategori tidak sehat. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan Nirwono Joga menyebut Jakarta dijuluki kota dengan tata kota terburuk di dunia karena pelanggaran tata ruang.

    Sebelumnya, media arsitektur Rethinking The Future (RTF) menobatkan Jakarta sebagai kota dengan tata kota terburuk di dunia karena sangat padat penduduk dengan polusi udara dan air yang sangat tercemar.

    Nirwono Joga mengatakan pembangunan kota Jakarta sangat tergantung pada kebijakan gubenurnya, bukan pada rencana tata ruang yang dibuat oleh Pemprov DKI.

    “Akibatnya ganti gubernur, ganti kebijakan. Bahkan cenderung harus beda, meskipun itu melanggar tata ruang. Ironisnya setiap melanggar justru diputihkan bukan dikembalikan ke fungsi semula, sehingga pelanggaran tata ruang terjadi dimana-mana dan dibiarkan bertahun-tahun,” kata Nirwono saat dihubungi pada Selasa, 24 Agustus 2021.

    Pengamat Tata Kota dari Universitas Trisakti itu menyebutkan pelanggaran rencana tata ruang kota yang dibiarkan bahkan semakin masif ini telah mendorong Jakarta menuju bunuh diri ekologis.

    Contohnya, ancaman Jakarta tenggelam dan banjir tahunan. Namun ancaman itu tidak ditindaklanjuti bahkan sungai berhenti dibenahi pada masa jabatan Gubernur DKI Anies Baswedan.

    “Gubernur DKI sebaiknya fokus pada rencana tata ruang kota yang sudah ada, patuhi dan laksanakan. Jangan memberi contoh melanggar apalagi memutihkan pelanggaran tata ruang," ujarnya. 

    Pakar tata kota itu menyarankan agar Gubernur Anies Baswedan fokus pada penanganan banjir Jakarta dan penambahan ruang terbuka hijau (RTH). "Juga peremajaan/pengembangan kawasan terpadu, pengintegrasian transportasi massal,” tambahnya. 

    ZEFANYA APRILIA | TD 

    Baca juga: DKI Jakarta No. 1 Terburuk Desainnya, Anggota DPRD: Menunjukkan Pemprov DKI..


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Semeru: Fakta dan Data...

    Semeru mengalami peningkatan aktivitas vulkanis pada 4 Desember 2021. Erupsi Semeru kali ini diduga akibat curah hujan tinggi dan sejumlah faktor.