Polisi Buru Tokyo 1880, WNA Otak Skimming ATM yang Rugikan Nasabah BNI Rp 17 M

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Yusri Yunus saat merilis kasus skimming yang melibatkan WNA asal Rusia dan Belanda. Rabu, 15 September 2021. TEMPO/M Julnis Firmansyah

    Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Yusri Yunus saat merilis kasus skimming yang melibatkan WNA asal Rusia dan Belanda. Rabu, 15 September 2021. TEMPO/M Julnis Firmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Polda Metro Jaya memburu seorang WNA yang diduga otak skimming ATM yang merugikan nasabah Bank BNI hingga Rp 17 miliar. Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Yusri Yunus mengatakan warga negara asing (WNA) itu memakai nickname Tokyo1880. 

    "Tersangka di atas lagi di luar negeri yang kami tahu identitasnya," kata Yusri di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu, 15 September 2021. 

    Aktor intelektual skimming tersebut selama ini hanya menghubungi rekannya yang ada di Jakarta via online. Pihaknya kini masih melacak keberadaan Tokyo1880 yang identitasnya sudah diketahui. 

    Sebelumnya, Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya menangkap dua WNA dan satu warga negara Indonesia. Seorang warga Rusia berinisial VK, WNA asal Belanda NG dan satu WNI berinisial RW. 

    Sindikat ini mengaku telah melakukan aksi kejahatannya selama satu tahun terakhir. Total uang milik nasabah BNI yang mereka keruk mencapai Rp17 miliar.

    Mengenai modus kejahatan kelompok ini, Yusri mengatakan sindikat tersebut menggunakan mesin deep skimmer. Alat ini diklaim lebih canggih dari alat yang sebelumnya biasa digunakan oleh pelaku kejahatan skimming.

    "Sindikat ini memilih tempat yang mudah untuk memasang alat deep skimmer. Saat memasang alat skimmer mereka melakukan penyamaran, pakai topi karena tahu ada CCTV," kata Yusri.

    Setelah data nasabah berhasil dicuri, sindikat ini kemudian membuat duplikat kartu korban ke dalam blank card atau kartu kosong. Selanjutnya kartu tersebut akan digunakan untuk menguras rekening korban. 

    Ketiga tersangka skimming itu dijerat dengan Pasal 30 Ayat 2, Pasal 6, Pasal 32 Juncto Pasal 48, Pasal 36 dan Pasal 38 Juncto Pasal 51 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 19 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik atau ITE. Mereka juga dijerat Kemudian Pasal 363 dan 236 KUHP dengan ancaman pidana maksimal tujuh tahun penjara.

    Baca juga: Komplotan Pelaku Skimming Beromzet Ratusan Juta Ditangkap di Jakarta Utara


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.