Bongkar Pabrik Ekstasi Palsu di Johar Baru, Polisi: Pil Diwarnai Pakai Spidol

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi ekstasi. Flash90

    Ilustrasi ekstasi. Flash90

    TEMPO.CO, Jakarta - Penyidik Polres Metro Jakarta Pusat membongkar pabrik ekstasi atau ineks skala rumahan di kawasan Johar Baru, Jakarta Pusat. Dari temuan di lapangan, penyidik mendapati bahwa ineks tersebut adalah abal-abal alias palsu. 

    "Kenapa dinamakan ineks palsu? karena menggunakan bahan-bahan obat diazepam, cloriflex, dan pil kina," kata Wakapolres Metro Jakarta Pusat Ajun Komisaris Besar Setyo Koes Heriyanto, Rabu, 15 September 2021. 

    Komplotan pembuat pil ekstasi palsu yang terdiri dari tiga orang ini menggunakan spidol untuk mewarnai pil mereka. Setyo mengatakan, menurut pengakuan tiga tersangka, mereka sengaja membuat pil dari bahan itu untuk mendapatkan untung berlipat. 

    Setyo mengatakan target penjualan pil ineks abal-abal ini adalah masyarakat di wilayah Jakarta. "Omzet dalam seminggu menghasilkan 3.000 butir dengan nilai keuntungan fantastis. Karena modal yang dikeluarkan Rp 5 ribu per butir. Pelaku menjual satu butir seharga Rp 200 ribu," kata Setyo.

    Kasat Narkoba Polres Metro Jakarta Pusat Komisaris Indrawienny Panjiyoga menuturkan, usaha home industry itu baru berjalan sekitar lima bulan. Adapun efek yang ditimbulkan dari mengonsumsi pil ineks palsu ini adalah halusinasi.

    Efek ini, kata Panji, berbeda dari ineks asli yang mengandung amfetamin. Efeknya semakin kuat saat penggunanya mendengarkan musik.

    "Dia bisa halusinasi, paranoid, emosi tinggi melihat orang dan bermacam-macam. Efeknya untuk kesehatan sangat berbahaya, spidol warna ini untuk pil yang dicetak," kata Panji.

    Ketiga tersangka pembuat ekstasi palsu itu dikenakan pasal 60 ayat 1 b subsider pasal 62 UU RI No 5 Tahun 1997 tentang psikotropika dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan pidana denda paling banyak Rp 100 juta. Selain itu, mereka juga dijerat dengan Undang-undang Kesehatan Pasal 5 KUHP.

    Baca juga: Polisi Ringkus WNA Nigeria yang Jadi Pemasok Pil Ekstasi Asal Jerman


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.