5 Fakta Penangkapan Otak Pembunuhan Paranormal di Tangerang

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pembunuhan menggunakan pistol. Ilustrasi : Tempo/Indra Fauzi

    Ilustrasi pembunuhan menggunakan pistol. Ilustrasi : Tempo/Indra Fauzi

    TANGERANG -Polda Metro Jaya akhirnya berhasil menangkap otak pelaku pembunuhan terhadap paranormal bernama Armand alias Alex di Tangerang.

    Pelaku pembunuhan adalah M, pria yang berprofesi sebagai pengusaha angkutan. “Sudah ditangkap," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Tubagus Ade Hidayat, pada Selasa, 28 September 2021.

    Alex dibunuh dengan cara ditembak seusai salat Magrib pada Ahad, 19 September 2021. Alex mengalami luka di pinggang dan meninggal saat dibawa ke rumah sakit. Berikut adalah sejumlah fakta tentang kasus pembunuhan ini.

    -Motif

    Ade Hidayat mengatakan M membunuh Alex karena dendam. Alex, kata dia, pernah meniduri istrinya sebanyak tiga kali dengan alasan memasang susuk pada 2010. Perselingkuhan itu baru diketahui M pada 2019.

    M sudah memaafkan pengakuan istrinya saat hendak naik haji. Namun, pada awal 2021, M mengetahui bahwa Alex juga pernah meniduri kakak iparnya. “Ini yang membangkitkan dendam peristiwa 10 tahun lalu,” kata Ade.

    -Pembunuh Bayaran

    Untuk melancarkan aksi balas dendamnya, M mencari pembunuh bayaran. Dia menyewa dua eksekutor dengan bayaran Rp 50 juta. M membekali mereka dengan sepucuk pistol Glock untuk membuh paranormal yang berpraktek di daerah Kuncirang, Tangerang itu. Eksekusi dilakukan pada Ahad kemarin, seusai Alex pulang salat Magrib di masjid dekat rumahnya.

    -Buku Tamu

    Polisi mencari petunjuk pembunuh di kasus ini dari buku tamu milik Alex. Polisi mencocokkan daftar pasien Alex dengan motif pembunuhan.

    Selanjutnya: Kami menemukan buku daftar tamu...


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pro - Kontra Syarat Tes PCR Covid-19 untuk Penerbangan Jawa - Bali

    Syarat terbaru naik transportasi udara antara lain wajib menunjukkan hasil negatif tes PCR. Kebijakan ini dinilai menyulitkan tak hanya penumpang.