DKI Wanti-wanti Gelombang 3 Penularan Covid-19 Menjelang Tahun Baru

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    ilustrasi - Dokter memegang botol ampul kaca mengandung sel molekul virus corona Covid-19 asal Inggris yang telah mengalami mutasi RNA menjadi varian baru. (ANTARA/Shutterstock/pri.)

    ilustrasi - Dokter memegang botol ampul kaca mengandung sel molekul virus corona Covid-19 asal Inggris yang telah mengalami mutasi RNA menjadi varian baru. (ANTARA/Shutterstock/pri.)

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ngabila Salama mengatakan, ada lima faktor yang bisa membuat penularan Covid-19 kembali tinggi. Dia mewanti-wanti potensi gelombang ketiga, khususnya menjelang tahun baru.

    "Menjelang libur akhir tahun biasanya kasus meningkat," kata dia dalam paparannya yang diunggah akun Youtube PKC Cilincing, dikutip Tempo hari ini, Jumat, 22 Oktober 2021.

    Faktor pertama adalah varian virus baru yang bermutasi. Ngabila mencontohkan virus corona varian Delta yang lebih mudah menular, mematikan, bahkan menyerang anak-anak. Virus ini bermutasi hingga 24 jenis.

    "Adanya varian mutasi virus yang berbahaya, seperti Delta dan anak-anaknya sekarang sudah ada 24 jenis," jelas dia.

    Kedua, vaksinasi Covid-19 yang tidak merata. Menurut dia, persentase vaksinasi di Ibu Kota sudah mencapai 80 persen. Namun secara nasional, baru 30-40 persen warga Indonesia yang disuntik vaksin.

    Ketiga, pelonggaran aktivitas yang memicu tingginya interaksi warga. Ngabila mengingatkan, virus tak tebang pilih menjangkit orang lanjut usia alias lansia, anak-anak, orang dengan gejala, disabilitas, ibu hamil, dan lainnya.

    "Ini yang bisa membuat angka kenaikan kasus, apalagi orang yang belum divaksin itu jadi cikal-bakal terjadinya mutasi virus baru," kata dia.

    Keempat, masyarakat tidak mematuhi protokol kesehatan Covid-19, yaitu 6M. 6M adalah memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, mencegah mobilitas tinggi, dan mencegah makan bersama. Ngabila berujar, ventilasi udara juga harus diperhatikan.

    Kelima, beredarnya berita bohong alias hoaks. Masyarakat, tutur dia, perlu mengecek lagi kebenaran informasi yang beredar di dunia maya.

    "Hoaks ini benar-benar jahat sekali. Ini yang bisa membuat kita jadi kebingungan," ucap dia.

    Baca juga: Mulai Hari Ini Anak Usia di Bawah 12 Tahun Boleh Naik Kereta Api Lagi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Semeru: Fakta dan Data...

    Semeru mengalami peningkatan aktivitas vulkanis pada 4 Desember 2021. Erupsi Semeru kali ini diduga akibat curah hujan tinggi dan sejumlah faktor.