Polemik Wisata Glow di Kebun Raya Bogor, Bima Arya: Kembalikan ke Data

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto dalam acara Simposium Digitalisasi Aksara Sunda yang digelar secara virtual di Paseban Sri Bima, Balai Kota Bogor, Senin, 7 Juni 2021. Kredit: PANDI

    Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto dalam acara Simposium Digitalisasi Aksara Sunda yang digelar secara virtual di Paseban Sri Bima, Balai Kota Bogor, Senin, 7 Juni 2021. Kredit: PANDI

    TEMPO.CO, Jakarta - Wali Kota Bogor Bima Arya mengatakan telah bertemu dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN membahas soal wisata glow di Kebun Raya Bogor yang belakangan mendapat banyak penolakan.

    Ia mengatakan, polemik wisata edukasi glow akan dikembalikan pada kajian cepat pihak terkait mengenai dampak terhadap ekosistem lingkungan.

    "Untuk Glow kita kembalikan ke data-data. Saya sudah bertemu dengan BRIN, sudah berkoordinasi tim IPB, ya masih fokus kepada mencocokkan data-data yang didapat, kajian yang didapat," kata Bima saat diwawancarai di sela peninjauan pembangunan Jalan Ir. H. Juanda, Senin, 25 Oktober 2021.

    Bima mengatakan kajian cepat itu akan memastikan agar bisnis wisata malam hari dengan menggunakan lampu warna warni, benar-benar tidak berdampak kepada ekosistem lingkungan.

    Setelah hasil kajian itu keluar, maka BRIN yang menaungi konservasi di Kebun Raya Bogor akan memutuskan mengenai pembukaan wisata glow.

    Meski demikian, kata Bima, Pemkot Bogor akan tetap memberi masukan kepada BRIN atas hasil kajian tersebut, karena Kebun Raya masuk dalam wilayahnya.

    Bima mengataka, Pemkot Bogor memberi rekomendasi agar pihak terkait tidak gegabah membuka wisata malam di Kebun Raya. "Itu pasti uji coba internal, karena saya minta jangan dibuka dulu, disetop dulu," ujar dia.

    Diketahui, rencana pembukaan wisata edukasi Glow sempat mengalami penolakan dari empat mantan petigginya, antara lain mantan Kepala Kebun Raya Bogor periode 1983-1987 Usep Soetisna, periode 1990-1997 Suhirman, periode 1997-2003 Dedy Darnaedi dan periode 2003-2008 Irawati yang menyampaikan kritik melalui surat terbuka dengan alasan bisa mengganggu ekosistem.

    Begitupun para budayawan Jawa Barat yang merasa terusik dengan hadir wisata Glow yang digagas PT MRN, karena dianggap tidak menghormati budaya sunda.

    Gelombang protes pun terus dilakukan para budayawan baik di area depan gerbang Kebun Raya Bogor, Balai Kota Bogor dan Gedung DPRD Jawa Barat sejak beberapa minggu lalu.

    Baca juga: Budayawan Jawa Barat Minta Pengelola Kebun Raya Bogor Hentikan Wisata Glow


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sembilan Hakim MK Terbelah dalam Putusan Uji Materil UU Cipta Kerja

    Mahkamah Konstitusi mengabulkan permohonan uji formil UU Cipta Kerja. Ada dissenting opinion.