Sejarah Istilah Preman: Ada Jejak Pembangkangan ke Penjajah Belanda

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Ilustrasi preman. Freepik.com

    Ilustrasi preman. Freepik.com

    TEMPO.CO, Jakarta -Kata preman  berasal dari bahasa Belanda vrijman, artinya orang yang tidak terikat kontrak kerja.

    Sementara dalam bahasa Inggris istilah preman berasal dari kata Free Man yang artinya orang bebas.

    Penggunaan istilah preman pertama kali dikenal di Medan, Sumatera Utara sejak jaman kolonial Belanda. Istilah tersebut kemudian melekat pada kaum lelaki yang menolak untuk bekerja di perkebunan milik Belanda, alasannya mereka tak mau diatur oleh penjajah.

    Dikutip dari AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah Volume 2, No. 2, Juni 2014, pada masa kolonial istilah preman hanya dikenal di kawasan onderneming yakni perkebunan di sekitar kota Medan. Bukan main, keberadaan vrije man dapat menakuti para pengusaha yang berkebangsaan Belanda.

    Bukan tanpa maksud yang jelas, adanya Vrijman justru sengaja dikembangkan oleh para pekerja perkebunan untuk dimanfaatkan dalam melawan kesewanang-wenangan pengusaha pengusaha melalui centeng-centeng yang bertindak tidak manusiawi.

    Dan orang Indonesia kesulitan mengucapkan vrijman, maka lama kelamaan istilah Belanda tersebut berubah menjadi preman.

    Masa itu pun, kebanyakan buruh perkebunan yang bekerja di Medan berasal dari Jawa, maka istilah preman itu pun dimaknai lagi menjadi prei mangan yang berarti gratis makan dan minum di warung-warung milik istri pekerja perkebunan.

    Para preman sengaja diberi makan dan minum gratis karena apabila mereka ada di warung itu, pengusaha dan centeng-centeng perkebunan milik Belanda tidak berani berbuat macam-macam.

    RAUDATUL ADAWIYAH NASUTION
    Baca juga : Jejak Orang Jawa di Suriname, Negara Eks Kolonial Belanda


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    Apa itu Satelit Orbit 123 derajat BT dan Kronologi Kekisruhannya?

    Kejaksaan Agung menilai pengelolaan slot satelit orbit 123 derajat BT dilakukan dengan buruk. Sejumlah pejabat di Kemenhan diduga terlibat.