Kuasa Hukum Sebut Nia Ramadhani Sukarela Serahkan Alat Isap Sabu ke Polisi

Reporter:
Editor:

Iqbal Muhtarom

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Nia Ramadhani (dua dari kanan) bersama suaminya Ardi Bakrie saat mengikuti sidang perdana kasus penyalahgunaan narkoba di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis, 2 Desember 2021. Nia Ramadhani ditangkap di kediamannya di Pondok Indah, bersama dengan sang sopir berinisial ZN pada 7 Juli 2021. TEMPO/Nurdiansah

    Nia Ramadhani (dua dari kanan) bersama suaminya Ardi Bakrie saat mengikuti sidang perdana kasus penyalahgunaan narkoba di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis, 2 Desember 2021. Nia Ramadhani ditangkap di kediamannya di Pondok Indah, bersama dengan sang sopir berinisial ZN pada 7 Juli 2021. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Kuasa hukum Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie, serta sopir pribadi Zen Vivanto membantah keterangan saksi dari Jaksa Penuntut Umum yang mengatakan bahwa pihak kepolisian menggeledah saat penangkapan di rumah Ardi Bakrie dan Nia Ramadhani.

    Wa Ode Nur Zainab selaku kuasa kukum ketiga terdakwa itu, mengatakan bahwa kliennya malah bertindak kooperatif saat ditangkap petugas.

    "Soal penggeledahan, jadi sebagaimana ibu Nia sampaikan, sebenarnya memang tidak ada penggeledahan. Dalam arti mereka melakukan pemeriksaan-pemeriksaan, tetapi bu Nia secara sukarela memberikan alat bukti itu kepada penyidik," kata Wa Ode usai sidang perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat seperti dikutip dari Antara Kamis, 2 Desember 2021.

    Menurut dia, Nia Ramadhani bahkan mengakui telah mengkonsumsi barang terlarang tersebut. Sehingga, lanjut dia, tindakan dari Nia yang menyerahkan alat bukti kepada penyidik mestinya diapresiasi.

    "Jadi sesungguhnya kita mesti apresiasi juga ya mereka tidak berbelit-belit mempersulit," kata dia.

    Adapun, Jaksa Penuntut Umum dari Kejaksaan Negeri Pusat menghadirkan tiga saksi yang merupakan anggota kepolisian yang menangkap ketiga terdakwa pada Rabu 7 Juli 2021.

    Ketiga saksi tersebut yakni, Agus Sujono, Hendra Gunawan, dan Benny Santoso Pandiangan. Dalam kesaksiannya, para saksi tersebut menyebutkan bahwa saat penangkapan pihaknya menggerebek dan menggeledah kediaman Nia Ramadhani.

    Adapun Jaksa Penuntut Umum mendakwa terdakwa Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie, serta sopir pribadi Zen Vivanto dengan pasal penyalahgunaan narkoba karena mengkonsumsi narkotika golongan I.

    "Para terdakwa, Rabu, 7 Juli 2021, sekira jam 08.00 WIB atau setidaknya pada bulan Juli bertempat di rumah Jalan Metro Kencana 5, Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, telah melakukan, turut serta melakukan, sebagai penyalahgunaan narkotika golongan I bagi diri sendiri," ujar jaksa dari Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat Andri Saputra saat membacakan surat dakwaan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis.

    Dalam dakwaannya, jaksa  menyebutkan bahwa polisi menggeledah rumah Nia Ramadhani dan berhasil mengamankan seperangkat alat isap sabu yang berada di laci kamar Nia.

    Setelah penangkapan itu, Nia dan sopirnya beserta alat bukti langsung diamankan ke Polres Metro Jakarta Pusat.

    Kemudian sekira jam 19.45 WIB, Ardi menyerahkan diri ke Polres Metro Jakarta Pusat dan selanjutnya terhadap yang bersangkutan dilakukan penangkapan.

    "Hasil tes urine ketiga terdakwa dinyatakan positif mengonsumsi metamfetamina," kata Jaksa.

    Atas perbuatannya itu para terdakwa pun didakwa telah melanggar Pasal 127 ayat 1 huruf a Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika Jo Pasal 55 ayat 1 KUHP dengan ancaman pidana empat tahun penjara.

    Sidang lanjutan keduanya diagendakan pada Kamis (9/12) dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dari Jaksa Penuntut Umum.

    "Persidangan kembali dilaksanakan pada hari Kamis, 9 Desember 2021 pukul 10.00 WIB untuk pemeriksaan saksi Jaksa Penuntut Umum," kata Hakim Ketua Muhammad Damis menutup persidangan perdana Nia Ramadhani di Ruang Sidang Prof. H. Hatta Ali Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

    Baca juga:  Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Didakwa Pasal Penyalahgunaan Narkotika


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    Apa itu Satelit Orbit 123 derajat BT dan Kronologi Kekisruhannya?

    Kejaksaan Agung menilai pengelolaan slot satelit orbit 123 derajat BT dilakukan dengan buruk. Sejumlah pejabat di Kemenhan diduga terlibat.