Kasus Rp 40 Juta Rachel Vennya untuk Kabur dari Karantina Dibawa ke Saber Pungli

Rachel Vennya menjalani sidang pidana singkat atas kasus pelanggaran karantina kesehatan di Pengadilan Negeri Tangerang, Banten, Jumat, 10 Desember 2021. Rachel, Salim dan manajernya diputuskan bersalah melanggar Pasal 93 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Karantina Kesehatan dan atau Pasal 14 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit. TEMPO/Nurdiansah

TEMPO.CO, Jakarta - Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) hari ini Senin 14 Desember  2021 melaporkan pungutan  liar dan dugaan suap atas perkara Rachel Vennya yang kabur dari karantina.

Koordinator  MAKI Boyamin Saiman  menyatakan  dasar laporan  adalah fakta persidangan  di Pengadilan Negeri Tangerang bahwa ada aliran uang Rp 40 juta dari Rachel ke Ovelia Pratiwi  seorang  petugas protokol  DPR RI yang bertugas di Bandara Soekarno-Hatta. Uang itu digunakan  agar Rachel, Salim Nauderer dan Maulida Khairunnia  tidak dikarantina menyusul  kepulangan mereka  dari Amerika Serikat.

"Meski dalam persidangan  disebutkan  sudah dikembalikan.  Tapi peristiwa  hukum sempurna, "kata Boyamin  kepada  Tempo  Selasa siang.

Boyamin menyatakan  dugaan pungli dan suap itu melibatkan  pegawai sipil dan militer. "Unsur terpenuhi,  atas laporan  MAKI agar didistribusikan ke KPK, Kepolisian  dan Kejaksaan  Agung untuk  ditindaklanjuti," kata Boyamin.

Rachel Vennya   menerangkan telah mengeluarkan  uang Rp 40 juta untuk  urusan kepulangannya  dari Amerika Serikat  tanpa menjalani  proses karantina.  Uang itu ditransfer kepada Ovelia Pratiwi seorang  petugas Bandara Soekarno-Hatta.

"Mbak Ovel yang mengurus kepulangan kami bertiga. Uangnya  saya transfer tapi sudah dikembalikan  lagi," kata Rachel menjawab pertanyaan majelis hakim yang meminta keterangan  sebagai terdakwa.

Rachel, pacarnya Salim Nauderer dan manajernya Maulida Khairunnia serta Ovelia menjadi terdakwa  pelanggaran Undang-Undang kekarantinaan kesehatan. Persidangan cepat digelar Jumat 10 Desember  2021 di Pengadilan Negeri Tangerang.  Sidang cepat itu dipimpin  Ketua Majelis Hakim Arief Budi Cahyono.

Pemberian  uang itu terungkap dalam sesi pemeriksaan  saksi dan terdakwa Ovelia. Petugas Bandara itu  membenarkan transfer  uang itu ke rekeningnya. Namun dari jumlah itu terdakwa  Ovelia menerangkan mentransfer  Rp 30 juta  ke rekening Kania.

"Jadi uang sepuluh juta itu kami bagi bertiga dengan dua petugas protokol  Bandara Eko dan Zarkasi, selebihnya saya transfer ke rekening atas nama Kania,"kata Ovelia.

Eko dan Ovelia mendapat jatah  uang masing-masing  Rp 4 juta, Zarkasi yang merupakan  supervisor yang notabene atasan  Eko menerima Rp 2 juta. Jumlah uang yang dibagi-bagi Rp 10 juta.

Ovelia sendiri mentransfer Rp 30 juta kepada Kania atas permintaan  Eko, "katanya untuk  satgas Covid-19,  karena yang bisa meloloskan apakah di karantina  atau tidak ya Satgas,"kata Ovelia di hadapan majelis hakim. Dia mengatakan  tidak mengenal Kania.

Kania dalam kesaksiannya di bawah sumpah di Pengadilan Negeri Tangerang  menerangkan  tidak tahu asal muasal  uang senilai  Rp 30 juta itu mampir ke rekening pribadinya.

"Saya tidak tahu dan menanyakan ke grup Whats'Ap  keluarga siapa yang mengirim. Ternyata tidak ada. Saya rutin mengecek mutasi karena  rekening  saya untuk  kepentingan  bisnis keluarga dan kakak-kakak kirim uang kuliah, "kata Kania.

Tapi selang dua hari setelah penerimaan uang  tak dikenal sumbernya itu kakaknya anggota TNI Angkatan Udara bernama Satria menelponya dan meminta agar mengembalikan  uang itu ke pengirimnya.

"Saya diberi nomor rekening  Ovelia. Kak Satria bilang ada uang masuk tiga puluh juta ya tolong kembalikan ke pengirimnya," kata Kania menirukan ucapan Satria.

Satria tidak dihadirkan jaksa penuntut  umum ke muka persidangan. Sosok dan perannya sempat ditanyakan hakim Arief. 

Fakta persidangan  terungkap bahwa alur pelolosan Rachel dan dua terdakwa lain itu ada peran Satria yang merupakan  anggota TNI AU bertugas di Lanud Halim Perdana  Kusuma.

Atas perintah Satria seorang  anggota TNI lain yang tidak diketahui namanya mengantar Rachel dkk dari Bus Damri ke kendaraan pribadi menuju rumah sang selebgram. Peristiwa  itu terjadi pada 17 September 2021 sekitar pukul 01.30 WIB.

"Bertiga kami naik Damri ke Wisma Atlet  Pademangan. Lalu setelah  turun bus tidak sampai registrasi  ada tentara mendekati  saya diminta ikut ke mobil  (-supaya tidak kelihatan) lantas kami menuju rumah,"kata Rachel. Rachel pun tidak mengetahui sosok tentara itu. "Saya panggil Pak saja. Dia bilang arahan Pak Satria," ujar Rachel.

Selepas pulang ke rumahnya, Rachel pun datang kembali  ke Wisma Atlet  Pademangan  hanya untuk  foto-foto.Mereka datang bertiga alasan berfoto agar mengesankan  sedang menjalankan karantina.

Rachel mengatakan  semula tidak mengenal Ovelia.  Saudaranya Intan yang memberinya nomor kontak Ovelia. Jadi saat masih di Amerika dia sudah menghubungi  Ovelia mengabarkan kepulangan ke tanah air.

Ovelia sendiri dihubungi  Intan untuk  membantu Rachel. mencoba membantu dengan menyebutkan  angka Rp 10 juta per orang untuk  bisa lolos karantina. 

Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Tangerang  Adib Fachri,  Oktaviandi dan Syahnara pun menuntut terdakwa  Rachel, Salim dan Maulida  dengan hukuman  4 bulan dan  denda Rp 50 juta. Jika selama delapan bulan ke depan para terdakwa  melakukan tindak pidana maka mereka  harus dikurung penjara. Adapun jika denda tidak dibayarkan  maka penggantinya satu kurungan penjara. Tuntutan  hukuman  sama berlaku bagi Ovelia. Hanya denda lebih ringan yakni Rp. 30 juta.

Majelis  Hakim yang diketuai  Arief Budi Cahyono  pun memutus perkara pelanggaran kekarantinaan kesehatan terhadap empat terdakwa  putusan  sama dengan tuntutan  JPU.

Pertimbangan putusan lebih rendah dari ancaman hukuman  satu tahun penjara adalah karena  para terdakwa  diantaranya  dalam persidangan para terdakwa  sopan tidak berbelit-belit dan  menyesali  perbuatannya.

Rachel, Salim, Maulida dan Ovelia terbukti  secara sah bersalah melanggar  pasal 14 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular dan Pasal 93 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. 

Rachel Vennya dan kawan-kawnanya hanya dihukum 4 bulan membayar denda uang Rp 50 juta. Hukuman  percobaan  itu  menjadi Hukuman  kurungan jika dalam delapan bulan mereka  melakukan  tindak pidana. Adapun  jika tidak membayar denda gantinya hukuman penjara satu bulan.

AYU CIPTA

Baca juga: Terungkap, Rachel Vennya Keluar Duit Rp 40 Juta untuk Kabur dari Karantina






Tetap Lakukan Karantina Kesehatan meski Pandemi Covid-19 Terkendali

4 hari lalu

Tetap Lakukan Karantina Kesehatan meski Pandemi Covid-19 Terkendali

Pakar mengatakan karantina kesehatan tetap perlu dilakukan meskipun pandemi COVID-19 telah terkendali secara penuh.


Polres Tangsel Bantah Minta Rp2 Juta ke Korban Kecelakaan di Polsek Pamulang

7 hari lalu

Polres Tangsel Bantah Minta Rp2 Juta ke Korban Kecelakaan di Polsek Pamulang

Viral postingan di media sosial polisi meminta uang Rp 2 juta kepada pemilik mobil yang terlibat kecelakaan di Pamulang.


Mulai Hari Ini, China Setop Karantina untuk Pelancong dari Luar Negeri

27 hari lalu

Mulai Hari Ini, China Setop Karantina untuk Pelancong dari Luar Negeri

China telah mengakhiri persyaratan karantina untuk pelancong yang datang dari luar negeri, meskipun sedang berjuang melawan lonjakan kasus COVID-19


Ketua RW di Jakarta Pungli Warga Rp 2,5 Juta untuk Urus KTP, KK & KIA, Istri Dipecat dari Pengurus PKK

30 hari lalu

Ketua RW di Jakarta Pungli Warga Rp 2,5 Juta untuk Urus KTP, KK & KIA, Istri Dipecat dari Pengurus PKK

Pemerintah Kota Jakarta Barat melalui Lurah Duri Kepa memberikan sanksi berupa surat teguran kepada ketua RW 10 lantaran pungli.


Eks Pengurus RW Pantai Mutiara Yakin Dipecat karena Ungkap Pungli, Bukan Tolak Proyek Nasional

37 hari lalu

Eks Pengurus RW Pantai Mutiara Yakin Dipecat karena Ungkap Pungli, Bukan Tolak Proyek Nasional

Eks pengurus RW menduga mereka diberhentikan karena mengungkap dugaan pungli (pungutan liar) terhadap fasilitas sosial-fasilitas umum.


Cegah Penyebaran Covid, AS Berlakukan Ketentuan Khusus untuk Pendatang dari China

38 hari lalu

Cegah Penyebaran Covid, AS Berlakukan Ketentuan Khusus untuk Pendatang dari China

Pemerintah AS akan memberlakukan tindakan khusus terhadap pendatang dari China untuk mencegah masuknya penyebaran Covid-19


Badai Covid-19, China Malah Hapus Aturan Karantina untuk Pelancong

39 hari lalu

Badai Covid-19, China Malah Hapus Aturan Karantina untuk Pelancong

China mengumumkan akan mulai berhenti mewajibkan pelancong untuk karantina pada Januari, meski tsunami COVID-19 masih berlangsung.


Uji KIR Mobil Dipastikan Bebas Pungli, Kata Penjabat Gubernur Jakarta Heru

40 hari lalu

Uji KIR Mobil Dipastikan Bebas Pungli, Kata Penjabat Gubernur Jakarta Heru

Pengemudi yang melakukan uji KIR tidak turun dari mobil sehingga tidak ada saling komunikasi antara petugas dan masyarakat sehingga meniadakan pungl.


Sidak Uji KIR di Ujung Menteng, Heru Budi Hartono Singgung Pungli

40 hari lalu

Sidak Uji KIR di Ujung Menteng, Heru Budi Hartono Singgung Pungli

Heru Budi Hartono mengingatkan agar kendaraan yang tidak lulus uji KIR diberi kesempatan kembali untuk diuji hingga dinyatakan lulus.


Bantah Ada Pungli, Jakpro Beri Wewenang Anak Usaha Kelola Lahan di Kawasan Pantai Mutiara

45 hari lalu

Bantah Ada Pungli, Jakpro Beri Wewenang Anak Usaha Kelola Lahan di Kawasan Pantai Mutiara

PT Jakarta Utilitas Propertindo mendapat wewenang dari Jakpro untuk mengelola lahan di kawasan Pantai Mutiara, Jakarta Utara. JUP bantah soal pungli.