Kasus Omicron Jakarta Tembus 725, Wagub Sebut akan Ada Pengetatan PPKM

Reporter:
Editor:

Ahmad Faiz Ibnu Sani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria di Balai Kota, Jakarta Pusat, Selasa, 4 Januari 2022. TEMPO/Lani Diana

    Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria di Balai Kota, Jakarta Pusat, Selasa, 4 Januari 2022. TEMPO/Lani Diana

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan bakal ada pengetatan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Ibu Kota. Menurut dia, pengetatan ini harus diterapkan mengingat terus bertambahnya penularan Covid-19 varian Omicron.

    "Jadi kami minta pengetatan. Nanti kami akan koordinasikan sesuai dengan masa periodenya PPKM Level 2 ini," kata Ahmad Riza Patria di Gedung PMI DKI Jakarta, Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat, Sabtu, 15 Januari 2022.

    Riza menyebut kasus Omicron yang ditemukan di Jakarta tembus 725. Dinas Kesehatan mencatat 545 orang atau 75 persen dari jumlah itu merupakan pelaku perjalanan luar negeri.

    Sementara 180 pasien lainnya tertular Omicron dari transmisi lokal. Data ini tercatat per 14 Januari 2022.

    Menurut Riza, pemerintah pusat bersama dengan daerah secara rutin mengevaluasi kebijakan PPKM. Salah satu pengetatan yang diperlukan, lanjut dia, soal perjalanan orang ke luar negeri. "Nanti kebijakan-kebijakan yang baru akan segera kami sampaikan," ucap politikus Partai Gerindra itu.

    Penambahan kasus Omicron sejalan dengan melonjaknya pasien harian yang terinfeksi virus corona. Belakangan ini penambahan kasus baru mencapai 100-300 per hari.

    Kasus aktif juga meningkat. Hingga kemarin pasien Covid-19 yang masih dirawat atau menjalani isolasi tercatat 3.325 orang.

    Benarkah Fase Endemisitas Covid-19 Sudah Dekat?

    Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan terlalu cepat untuk mengatakan bahwa wabah virus corona penyebab Covid-19 sudah menuju fase endemi. WHO merujuk kepada pernyataan sejumlah pakar di dunia, termasuk di Indonesia, perihal keyakinan transisi pandemi-endemi di balik ledakan kasus baru karena SARS-CoV-2 varian Omicron.

    Dalan keterangan kepada pers pada Selasa lalu, pejabat senior bidang kedaruratan WHO Eropa, Catherine Smallwood, mengatakan bahwa endemisitas tercapai ketika sirkulasi virus sudah stabil di level dengan gelombang-gelombang penularannya yang sudah bisa diprediksi. Dan, menurut dia, itu tidak bergantung kepada upaya-upaya eksternal yang ditempatkan untuk memelihara stabilitas itu.

    "Tapi apa yang kita lihat sekarang, memasuki 2022 ini, sama sekali belum mendekati fase itu," katanya sambil menambahkan, "Kita tidak bisa diam saja dan kemudian stabilitas penularan itu terjadi."

    Smallwood menyatakan kalau saat ini masih ada begitu besar ketidakmenentuan karena virus yang berevolusi cukup cepat. Kemampuan virus itu memberi tantangan-tantangan baru untuk dihadapi umat manusia. "Jadi jelas sekali kita belum ada pada titik kemampuan untuk menyebut fase endemi," katanya.

    Dalam jumpa pers itu WHO juga mengungkap hasil pemodelannya bahwa infeksi Covid-19 varian Omicron akan menjangkiti lebih dari separuh populasi penduduk di benua Eropa dalam 6-8 pekan ke depan. Omicron disebut menyebar lebih cepat dan luas daripada varian-varian Covid-19 sebelumnya.

    Baca juga:

    Ade Yasin Ungkap Kronologi Kasus Pertama Omicron di Kabupaten Bogor


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    Apa itu Satelit Orbit 123 derajat BT dan Kronologi Kekisruhannya?

    Kejaksaan Agung menilai pengelolaan slot satelit orbit 123 derajat BT dilakukan dengan buruk. Sejumlah pejabat di Kemenhan diduga terlibat.