Pulau Pari Terancam Tenggelam, Warga Tuntut PT Holcim ke Pengadilan Swiss

Warga Pulau Pari berunjuk rasa di Balai kota DKI Jakarta, 25 april 2018. Dalam Aksinya warga meminta hak atas pengembalian pemukiman di Pulau Pari atas kejanggalan penerbitan sertifikat yg di lakukan oleh BPN (Badan Pertahanan Nasional) di Pulau Pari. TEMPO/Muhammad Denggan Fahrurrozie

TEMPO.CO, Jakarta - Warga Pulau Pari menggugat PT Holcim ke Pengadilan Swiss karena diduga berkontribusi terhadap perubahan iklim yang mengancam pulau tersebut dan penghuninya. Lewat produksi betonnya, PT Holcim dinilai sebagai salah satu perusahaan penyumbang emisi tertinggi secara global.

“Gugatan ini sesungguhnya mempertanyakan sejauh mana tanggung jawab dari Holcim sebagai pemimpin pasar industri semen di dunia yang berkontribusi signifikan terhadap perubahn iklim,” kata Kepala Divisi Kajian Hukum Lingkungan Eksekutif Nasional Walhi, Dewi, pada konferensi pers, Selasa, 20 September 2022.

Menurut Dewi, Holcim merupakan pemimpin di industri semen dunia yang merupakan penyumbang ketiga terbesar terhadap emisi global. Sedangkan Panel Perubahan Iklim Antarpemerintahan (IPCC) memperkirakan meningkatnya emisi gas rumah kaca dapat menyebabkan naiknya permukaan air laut setinggi satu meter pada 2100. Lebih dari 4 juta orang di Indonesia akan mengalami banjir tahunan dan bisa menjadi jauh lebih buruk jika terjadi runtuhnya lapisan es di Antartika.

Dewi mengatakan beban dan dampak nyata dari meninkatnya emisi gas rumah kaca itu kini dihadapi oleh warga Pulau Pari. Perubahan iklim menyebabkan tingginya permukaan air laut, badai, gelombang tinggi dan cuaca ekstrem yang mengakibatkan banjir. Hal ini mengancam eksistensial bagi pulau-pulau kecil dan daerah-daerah dengan pesisir dataran rendah.

Dalam gugatannya, kata Dewi, warga Pulau Pari menuntut PT Holcim untuk mengurangi emisi gas rumah kacanya sebesar 43 persen pada tahun 2030 dan 69 persen pada tahun 2040. Holcim dituntut wajib menanggung biaya tindakan mitigasi perubahan iklim yang diperlukan di Pulau Pari. Ini termasuk penanaman bakau dan pertahanan banjir. “Tentu itu kami melihatnya dari garis dasar nilai industri pada tahun 2019 dan tuntutan kita itu secara global ya” kata dia.

Dewi menyampaikan, bahwa proses gugatan itu sudah disampaikan pada Juli 2022 dan sedang ada proses konsolidasi dengan perusahaan selama 3 bulan di Swiss.

 

Pulau Pari Mengambil Sikap

Mustaghfirin alias Bobby, 50 tahun, Ketua Forum Peduli Pulau Pari (FP3) yang berprofesi sebagai nelayan mengeluhkan kondisi cuaca yang sangat sulit ditebak. Ia mengatakan beberapa jenis ikan sulit untuk ditemui. Alhasil, pendapatan pun ikut berkurang.

“Berbeda dengan 6 sampai 7 tahun lalu di mana kami masih bisa memprediksi cuaca. Padahal, sebelum melaut, nelayan seperti kami harus membaca cuaca. Kondisi seperti sudah sangat merugikan kami, tidak jarang cuaca yang tadinya baik tiba-tiba di tengah perjalanan menjadi buruk sehingga memaksa kami untuk kembali ke pulau dan tidak melaut. Saya bahkan pernah hampir tenggelam karena gelombang yang tiba-tiba tinggi dan membuat perahu saya oleng.” Keluhnya.

Bobby juga mengkhawatirkan tentang ancaman dan memiliki ketakutan untuk melaut, terlebih dengan jarak di atas 15 mil. Ia takut nyawanya terancam akibat cuaca yang bisa berubah secara tiba-tiba.

Senada dengan Bobby, Edi Mulyono, 37 tahun, menuturkan Pulau Pari sudah terancam tenggelam. “Air laut terus naik, banjir rob terjadi semakin sering dan semakin besar” tuturnya.

Ia menyampaikan, banjir rob pada 2019 dan 2020 bahkan menjadi rob paling besar yang pernah terjadi selama pulau ini ditinggali. Akibat dari krisis iklim ini warga harus selalu waspada.

“Beberapa sumur bahkan sudah tidak bisa digunakan karena tercemar air laut. Warga di bagian barat dan di RT 1 juga harus meninggikan rumahnya setiap tahun.” Kata Edi pengelola sebuah guesthouse untuk wisatawan yang juga berprofesi nelayan.

ALIYYU MEDYATI

Baca juga: Banjir Rob Terparah Tahun Ini di Pulau Pari, Walhi: Solusi Palsu KTT COP26

Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.






Rumah Sakit di Swiss Matangkan Rencana untuk Hemat Listrik

1 hari lalu

Rumah Sakit di Swiss Matangkan Rencana untuk Hemat Listrik

Krisis energi di Swiss buntut dari terganggunya suplai dari Rusia. Meski dapat pengecualian, namun rumah sakit mempertimbangkan untuk hemat listrik.


Cerita Roger Federer yang Berjuang Menjalani Hidup Normal

2 hari lalu

Cerita Roger Federer yang Berjuang Menjalani Hidup Normal

Roger Federer menyatakan salah satu hal yang disyukuri ialah upaya menjaga kehidupan sebagai atlet dan sebagai warga biasa yang membutuhkan privasi.


Kementan dan Bank Dunia Bangun Pertanian Berketahanan Iklim

3 hari lalu

Kementan dan Bank Dunia Bangun Pertanian Berketahanan Iklim

Bank Dunia diharapkan terus membantu mewujudkan sistem pertanian dan pangan nasional yang tangguh.


Roger Federer Eks Petenis Nomor Satu Dunia Bersiap Gantung Raket, Ini Profilnya

7 hari lalu

Roger Federer Eks Petenis Nomor Satu Dunia Bersiap Gantung Raket, Ini Profilnya

Roger Federer petenis yang pernah menjadi petenis nomor satu dunia mengatakan dirinya berancang untuk pensiun. Begini profil atlet asal Swiss ini.


Banjir Bandang Menerjang Italia, 10 Orang Tewas

7 hari lalu

Banjir Bandang Menerjang Italia, 10 Orang Tewas

Italia dilanda banjir bandang yang menyebabkan 10 orang tewas. Penyebab banjir diperkirakan karena perubahan iklim.


Miliarder Ini Sumbangkan Pendapatan Perusahaan Demi Atasi Perubahan Iklim

9 hari lalu

Miliarder Ini Sumbangkan Pendapatan Perusahaan Demi Atasi Perubahan Iklim

Miiarder asal Amerika Serikat menyumbangkan pendapatan perusahaan demi mengatasi perubahan iklim.


Sri Mulyani: Dampak Krisis Iklim Lebih Besar dari Pandemi Covid-19, Harus Ada Solusi

10 hari lalu

Sri Mulyani: Dampak Krisis Iklim Lebih Besar dari Pandemi Covid-19, Harus Ada Solusi

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan perubahan iklim tidak hanya berdampak pada kehidupan sosial masyarakat, tapi juga ekonomi secara keseluruhan.


Gletser Gunung di Chili Runtuh karena Kenaikan Suhu

11 hari lalu

Gletser Gunung di Chili Runtuh karena Kenaikan Suhu

Sebagian gletser yang menggantung di taman nasional di wilayah Patagonia, Chili, pecah dampak perubahan iklim


Fungsi Drone Hermes 900 HFE Buatan Israel yang Dibeli Swiss

11 hari lalu

Fungsi Drone Hermes 900 HFE Buatan Israel yang Dibeli Swiss

Drone Hermes 900 HFE buatan Elbit System di Israel dipesan Swiss untuk sistem pengintaian


Swiss Beli Drone Pengintai Israel Hermes 900 HFE, Ini Spesifikasinya

11 hari lalu

Swiss Beli Drone Pengintai Israel Hermes 900 HFE, Ini Spesifikasinya

Drone Hermes 900 HFE merupakan sistem pengintaian tak berawak dan tak bersenjata buatan Israel.