Polisi Temukan dan Teliti Tinja Jenazah Satu Keluarga Di Kalideres

Petugas melakukan olah TKP di rumah satu keluarga yang tewas di Kalideres, Jakarta Barat, Rabu, 16 November 2022. Beberapa hari lalu, penyidik mengambil beberapa barang bukti dari lokasi berupa buku-buku keagamaan, bekas bungkus makanan, nota belanja dari salah satu supermarket, handphone, buku catatan, dan lain-lain. TEMPO/M. Faiz Zaki

TEMPO.CO, Jakarta - Tim dokter forensik menemukan tinja dalam tubuh jenazah satu keluarga tewas di Kalideres. Kotoran tersebut akan diteliti untuk mengetahui penyebab pasti kematian empat orang anggota keluarga ini.

"Berdasarkan keterangan dari dokter forensik, kita menemukan feses," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Hengki Haryadi di Polda Metro Jaya pada Kamis, 24 November 2022. 

Dokter kepolisian akan meneliti kandungan-kandungan yang terdapat dalam keladak perut tersebut. "Harus kita teliti di laboratorium, ini kandungannya apa," tuturnya. 

Mantan Kapolres Jakarta Pusat itu mengatakan temuan ini bisa saja mengungkapkan atau memutar balik anggapan yang selama ini berembus. "Arti dari temuan autopsi, biar ahli yang menjelaskan. Mungkin bisa mengungkapkan atau mematahkan praduga selama ini," tambahnya.

Kasus ini berawal dari penemuan empat jenazah di dalam satu rumah di Blok AC5/7 Perumahan Citra Garden 1 Extension, Kalideres, Jakarta Barat, pada Kamis, 10 November 2022.

Mereka yang wafat adalah Rudyanto Gunawan (laki-laki 71 tahun), Renny Margaretha Gunawan (perempuan 68 tahun), Dian Febbyana Apsari Dewi (perempuan 42 tahun), dan Budyanto Gunawan (laki-laki 68 tahun).

Rudyanto adalah suami dari Renny, Dian merupakan anak dari mereka. Sedangkan Budyanto merupakan adik dari Rudyanto.

Jenazah mereka ditemukan dalam keadaan membusuk. Menurut hasil autopsi sementara tidak ditemukan sisa makanan dalam lambung dan tidak ada bekas kekerasan.

Motif Kematian Satu Keluarga Tewas di Kalideres Jadi Teka-teki Rumit

Hengki Haryadi menyatakan motif kematian satu keluarga di Kalideres ini bak teka-teki yang cukup rumit. "Namun, yakin ini bisa kami pecahkan, memang butuh kehati-hatian. Jadi puzzle-nya semakin dalam, mengapa yang bersangkutan ini jual mobil, jual barang-barang itu untuk apa, dan sebagainya," katanya di Polda Metro Jaya, Senin, 21 November 2022.

Penemuan terbaru hasil penyelidikan adalah rumah yang menjadi tempat kejadian perkara (TKP) hendak dijual sekitar Rp1,2 miliar oleh Budyanto Gunawan. Sedangkan sertifikat tersebut atas nama Renny Margaretha Gunawan, yang merupakan ipar dari Budyanto.

Ada tiga orang pegawai dari sebuah koperasi simpan pinjam yang datang ke rumah itu pada 13 Mei 2022. Mereka datang karena tertarik untuk memproses gadai sertifikat rumah tersebut.

Mereka ditemui oleh Budyanto saat di depan rumah, tapi tercium aroma busuk. Budyanto menjawab aroma itu berasal dari selokan yang lupa dibersihkan.

Seorang pegawai koperasi itu ingin bertemu dengan Renny. Kemudian Dian Febbyana Apsari Dewi memperbolehkan pegawai tersebut bertemu ibunya, Renny, di dalam kamar.

Namun, lampu kamar tidak boleh dinyalakan dengan alasan ibunya sensitif terhadap cahaya. Ketika pintu kamar dibuka, bau busuk makin tajam tercium oleh pegawai itu.

"Pada saat dibangunkan untuk mengecek sertifikat ini, dipegang-pegang agak lembut, curiga. Tanpa sepengetahuan Dian, pegawai koperasi simpan pinjam ini menghidupkan flash hp-nya. Begitu dilihat, langsung yang bersangkutan berteriak takbir, 'Allahu Akbar! Ini sudah mayat!' Di tanggal 13 Mei," ujar Hengki.

Kepada pegawai yang terkejut itu, Dian mengatakan masih merawat ibunya yang sudah membusuk. Bahkan setiap hari diberikan minuman susu dan menyisir rambut mayat yang mulai rontok.

Tiga orang pegawai itu beranjak dari rumah dan mengurungkan niat untuk menggadai. Namun Budyanto mengejar pegawai yang melihat mayat itu dan berpesan agar tidak melapor kepada siapa pun.

Satu sosok yang tidak terlihat oleh para pegawai koperasi adalah Rudyanto Gunawan. Pegawai hanya melihat Dian dan Budyanto, serta satu jenazah yang diduga adalah Renny.

Penemuan lainnya adalah ada dua handphone di dalam rumah tersebut. Ternyata satu handphone digunakan oleh dua orang anggota keluarga secara bergantian.

MUHSIN SABILILLAH 

Baca juga: Handphone Keluarga yang Meninggal di Kalideres Banyak Memuat Kata Bernada Emosi Negatif






Polda Metro Jaya Pelajari Kasus Bus Transjakarta Diduga Tabrak Lari Pelajar SMK di Ciputat

6 jam lalu

Polda Metro Jaya Pelajari Kasus Bus Transjakarta Diduga Tabrak Lari Pelajar SMK di Ciputat

Polres Tangerang Selatan telah menyerahkan perkara bus Transjakarta diduga tabrak lari siswa SMK ini ke Polda Metro Jaya.


Top 3 Metro: Polisi Akui Salah Prosedur Penetapan Tersangka Mahasiswa UI, Bukti Kepemilikan Tanah Bripka Madih

13 jam lalu

Top 3 Metro: Polisi Akui Salah Prosedur Penetapan Tersangka Mahasiswa UI, Bukti Kepemilikan Tanah Bripka Madih

Berdasarkan hasil rekonstruksi tabrakan mahasiswa UI Hasya Athallah Saputra, polisi juga menemukan bukti baru.


Kasus-Kasus yang Dibatalkan Status Tersangkanya

14 jam lalu

Kasus-Kasus yang Dibatalkan Status Tersangkanya

Status Muhammadiyah Hasya sebagai tersangka akhirnya dibatalkan oleh Polda Metro Jaya. Selain Hasya, polisi juga pernah membatalkan status tersangka dalam sejumlah kasus lainnya.


Polda Metro Pastikan Fortuner yang Tabrak Lari Ojol di Jaktim Bukan Mobil Dinas Polri

20 jam lalu

Polda Metro Pastikan Fortuner yang Tabrak Lari Ojol di Jaktim Bukan Mobil Dinas Polri

Polda Metro Jaya menyebut pelat nomor Polri yang terpasang di Toyota Fortuner, yang diduga tabrak lari sopir Ojol di Pulogadung, pelat nomor palsu


Polda Metro Harus Cek Bukti Kepemilikan Tanah yang Diperkarakan Bripka Madih

1 hari lalu

Polda Metro Harus Cek Bukti Kepemilikan Tanah yang Diperkarakan Bripka Madih

Polisi akan tinjau legal standing tanah yang disengketakan Bripka Madih.


Dikonfrontir, Bripka Madih Peluk dan Minta Maaf pada Penyidik yang Disebut Lakukan Pemerasan

1 hari lalu

Dikonfrontir, Bripka Madih Peluk dan Minta Maaf pada Penyidik yang Disebut Lakukan Pemerasan

Konfrontasi ini juga membahas soal laporan dari orang tua Bripka Madih atas dugaan penyerobotan tanah pada 2011.


Hasil Rekonstruksi Kasus Tabrakan Mahasiswa UI: Ada Bukti Baru, Polisi Akui Salah Prosedur Penetapan Tersangka

1 hari lalu

Hasil Rekonstruksi Kasus Tabrakan Mahasiswa UI: Ada Bukti Baru, Polisi Akui Salah Prosedur Penetapan Tersangka

Polda Metro Jaya membeberkan hasil rekonstruksi kasus tabrakan mahasiswa UI. Hasilnya ditemukan bukti baru dan adanya kesalahan prosedur.


Ecky Mutilasi Mayat Angela Selama Seminggu di Apartemen Korban pada Agustus 2019

1 hari lalu

Ecky Mutilasi Mayat Angela Selama Seminggu di Apartemen Korban pada Agustus 2019

Ecky membunuh Angela pada Juni 2019 lalu memutilasinya dua bulan kemudian. Dilakukan di apartemen korban.


Polda Metro Sebut Balap Liar Masih Marak di Jaksel Meski Sudah Ada Ajang Street Race

1 hari lalu

Polda Metro Sebut Balap Liar Masih Marak di Jaksel Meski Sudah Ada Ajang Street Race

Aksi balap liar tersebut masih terjadi padahal Polda Metro telah membuat ajang Street Race yang ditujukan mewadahi para pelaku balap liar di Ibu Kota.


Mengaku Diperas Sesama Polisi, Bripka Madih Kini Dilaporkan Warga Jatiwarna Bekasi ke Polda Metro

1 hari lalu

Mengaku Diperas Sesama Polisi, Bripka Madih Kini Dilaporkan Warga Jatiwarna Bekasi ke Polda Metro

Sejumlah warga Jatiwarna Bekasi, RT 04 RW 03 melaporkan Bripka Madih ke Polda Metro atas tindakannya memasang patok dan pelang di tanah mereka.