Rekening Nasabah BCA di Bekasi Dibobol Lewat Mesin Anjungan Nontunai

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Bekasi - Rekening seorang nasabah Bank BCA diduga bobol lewat mesin anjungan nontunai di daerah Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat. Jumlah uang korban yang hilang Rp 36 juta.

    Nefo Soaloon, mengatakan ada 11 kali transaksi di rekeningnya tanpa sepengetahuan dia. "Saldo saya awalnya Rp 47 juta, setelah saya print jadi sisa Rp 11 juta," kata Nefo, kepada Tempo, Ahad (24/1).

    Pada print out buku tabungannya tertulis transaksi berkali-kali terjadi 6 Mei 2009 lalu. Ketika itu, Nefo melakukan transaksi di mesin anjungan nontunai BCA di ruko Perumahan Vila Nusa Indah I Jatiasih, Bekasi. Dia empat kali transaksi, dua kali di mesin nontunai untuk membayar listrik PLN dan Telkom Speedy, dan dua kali di mesin tunai mengisi pulsa XL Rp 25 ribu dan menarik uang Rp 200 ribu, sekitar pukul 12.07 WIB.

    Saat transaksi di mesin nontunai, seorang nasabah di mesin lain menanyakan apakah mesin nontunai berfungsi. Orang itu lalu mengantri di belakangnya. Nefo mengaku curiga karena orang itu terus mengajak mengobrol sehingga merusak konsentrasinya.

    Biasanya, mesin anjungan nontunai meminta nomor PIN dua kali untuk sekali transaksi. Selain itu, ada suara dari mesin anjungan meminta nomor PIN tidak terdengar namun sudah masuk ke tampilan layar.

    Tiga hari kemudian, kartu ATM miliknya sudah tidak bisa digunakan. Pada 11 Mei, dia meminta blokir rekeningnya di buka ke Bank BCA KCU Kalimalang, namun tetap tidak bisa dipakai.

    Nefo lantas meminta buku rekeningnya dicetak. Dia kaget isi rekeningnya sisa Rp 11 juta, padahal saldo aslinya Rp 47 juta. Nefo telah mengajukan permohonan ke Direksi Bank BCA Pusat supaya uangnya diganti. Dia juga telah melaporkan perihal tersebut ke Polres Metropolitan Bekasi, namun belum membuahkan hasil.

    HAMLUDDIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.