Anak Jalanan di Panti: Yang Gak Didapat di Sini Cuma Uang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anak jalanan tertidur lelap di atas jembatan di kawasan Pramuka, Jakarta,(15/4). Tingginya biaya hidup di Jakarta membuat sebagian orang tidak memiliki tempat tinggal. TEMPO/Tony Hartawan

    Seorang anak jalanan tertidur lelap di atas jembatan di kawasan Pramuka, Jakarta,(15/4). Tingginya biaya hidup di Jakarta membuat sebagian orang tidak memiliki tempat tinggal. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO Interaktif, Jakarta -Ilham, 16, tampak sedang menikmati waktunya di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya, Kedoya, Jakarta Barat, ketika Tempo menemuinya. Ia sedang bercengkerama dengan rekannya yang juga sesama anak jalanan. "Saya di sini sudah seminggu," katanya.

    Anak jalanan itu ditangkap Rabu malam pekan lalu di daerah Grogol. Saat itu remaja yang sudah lima tahun hidup di jalanan Jakarta itu sedang mengamen di dalam Metro Mini. Tiba-tiba Tramtib menghampiri dan langsung menggelandangnya. "Waktu itu saya ditangkap sendiri," katanya.

    Agus, 24, juga bernasib nahas seperti Ilham. Ia diciduk Satuan Polisi Pamong Praja di sebuah halte di kawasan Bundaran Hotel Indonesia. "Gara-gara tukang kopi sialan yang sedang dikejar PP, dia lari ke arah gue. Gue yang lagi enak-enak tidur jadi ikutan ditangkap," cerita Agus.

    Kedua anak jalanan itu mengaku terpaksa menjadi pengamen di Jakarta. Ilham merupakan anak rantau dari Yogyakarta. Tahun 2000 ia bersama kedua orang tuanya hijrah ke Jakarta. Tanpa tujuan yang jelas orang tua Ilham memutuskan berjualan keripik singkong. "Bokap-nyokap masih ada, mereka jualan sekarang," tutur Ilham.

    Karena usaha keripik orang tuanya tak kunjung maju, Ilham akhirnya memutuskan menjadi pengamen sejak 2005 untuk membantu pemasukan orang tuanya. Kehidupan keras ia jalani. Jakarta ia arungi. Ilham mengaku semua sudut kota Jakarta sudah ia singgahi. Sudah hampir enam bulan ini Ilham tak bertemu dengan orangtuanya yang saat ini tinggal di kawasan Cengkareng. "Saya ketemu orang tua kalau bawa uang saja," tutur Ilham.

    Agus lebih ekstrim. Sejak 1997 ia menjadi pengamen di Jakarta. Pria asli Cilegon itu hijrah ke Jakarta karena ingin mendapat kehidupan yang layak. Namun Jakarta tidak menuntunnya ke sana. Kehidupan keras ibu kota membawanya menjadi anak jalanan sampai sekarang. "Pokoknya semua anak jalanan di HI kenal semua sama gue," katanya mantap.

    Ayah Agus sudah meninggal, sedangkan ibunya berada di Cilegon. Semenjak hijrah ia tidak tahu lagi kabar orang tuanya di kampung. "Nyokap masih ada, enggak tau gimana kabarnya," kata Agus seraya menunduk.

    Meskipun sepuluh tahun lebih hidup sebagai anak jalanan, ia tidak pernah melakukan hal menyimpang yang menggerus harga dirinya. Ia mengaku kerap ditawari untuk melakukan anal seks. Tapi ia selalu menolak. "Kagak mau gue. Gini-gini gue masih normal," katanya.

    Yang menawari Agus saat itu, katanya bepenampilan seperti mahasiswa. Untuk sekali melakukan anal seks, Agus mengaku diiming-imingi uang Rp 300 ribu. "Waktu itu ada anak kecil yang mau. Kalau gue sendiri mah ogah. Amit-amit," katanya.

    Ekspariat atau pria asing juga ada yang menawarinya melakukan anal seks. Namun Agus tetap tidak mau. Walaupun ia tahu akan diberi imbalan Rp 400 ribu. "Duit segitu mah gue bisa dapet. Daripada digituin," katanya.

    Berada di Panti Sosial Bina Insan, Kedoya, Agus dan Ilham merasa senang. Mereka tidak tertekan sama sekali. Keduanya mengaku hidup mereka terjamin. Makan enak dan tidak terancam keselamatannya. "Kerjaannya makan tidur doang di sini," kata Ilham.

    Setiap hari panti sosial memberi makan tiga kali sehari. Menunya, kata Agus, juga beragam. Kadang diberikan telur atau ikan. Di ruangannya Agus berbagi tempat dengan 26 rekan-rekannya. "Ramai juga sih tapi gue seneng-seneng saja di sini," katanya.

    Agus sangat tidak setuju dengan pemberitaan yang mengatakan kalau di Panti Sosial mereka diberi makanan nasi basi dan sering dianiaya. "Yang bilang kayak gitu orang yang enggak tahu terima kasih. Yang enggak didapat di sini cuma uang," katanya.

    Ilham tinggal di ruangan berukuran 4 kali 4 meter persegi. Di ruangan itu ia berbagi dengan 12 orang rekannya yang juga sesama anak jalanan. Tidur beralaskan tikar tidak masalah bagi Ilham. Yang terpenting ia mempunyai tempat berteduh. "Agak ramai sih, tapi enggak apa-apa daripada enggak punya rumah," katanya.

    Secara umum kegiatan Ilham makan dan tidur. Setiap pagi ia bangun pukul tujuh. Makan jadi kegiatan pertamanya di pagi hari setelah bangun. "Yang pasti harus isi perut dulu," katanya.

    Selesai makan Ilham membereskan ruangannya. Dengan sapu ijuk, pria rantau asal Yogyakarta itu membersihkan ruangannya. "Kadang gantian yang nyapu," katanya. Setelah itu ia bergegas mandi.

    Menjaga kebersihan badan merupakan hal yang harus dilakukan setiap hari. Mandi juga merupakan anjuran dari kepala panti. Di panti sosial itu juga terpantau ada banyak himbauan menjaga kebersihan hampir di setiap sudut ruangan. Itulah kenapa ketika mengunjungi kamar Ilham terlihat agak bersih dan tikar tertata rapih tergulung di sudut ruangan. "Kepala pantinya suka yang bersih-bersih," katanya.

    Setelah selesai mandi, sambil menunggu makan siang pukul 12, praktis Ilham tidak punya kesibukan yang berarti. Biasanya ia bercengkrama dengan rekan-rekannya atau bermain gitar.

    Menu makan siang selalu berbeda dengan pagi. Itulah yang Ilham suka di Panti Sosial. "Enak-enak makannya. Menunya beda terus," terang Ilham. Kembali setelah selesai makan siang Ilham tidak punya kegiatan. Kadang ia berbincang dan main gitar lagi rekannya. "Seringnya sih tidur kalau siang."

    Sore sekitar pukul tiga, petugas panti kembali menservis Ilham dan rekan-rekannya dengan makanan berat. Dan lagi menunya berbeda. Menurut Ilham makan tiga kali sehari sangat jarang didapatnya selama berada di jalanan. "Makan dua kali saja sudah syukur," katanya.

    Karena petugas panti kebanyakan sudah pulang sejak pukul lima praktis tidak ada makan malam. Namun panti tetap dikontrol petugas keamanan. Pada malam hari inillah Ilham dan rekan-rekannya bebas berkegiatan. Biasanya mereka bernyanyi sepuasnya dengan suara keras di aula. "Kalau siang nyanyinya enggak boleh keras. Kalau malam bebas," katanya.

    Kegiatan Ilham baru berhenti pukul 12 malam. Petugas biasanya menyuruh warga panti masuk ke dalam ruangannya. Dan keesokan harinya Ilham melakukan hal yang kurang lebih serupa. Sampai akhirnya ia dibawa ke sekolah rujukan panti di daerah Cengkareng. "Saya sih ada di sini seneng-seneng aja," katanya.

    Agus dan Ilham bukan kali ini menjadi penghuni Panti Sosial Bina Insan. Keduanya mengaku sering masuk keluar panti sosial. Ilham mengaku ini yang ketiga kalinya dia berada di Kedoya. "Terakhir ketangkep dua bulan lalu. Waktu ngamen juga ditangkepnya," papar Ilham yang terakhir mengeyam pendidikan di kelas 5 SD itu.

    Ilham dan Agus mengaku setelah dibina di panti sosial ini biasanya mereka disalurkan ke sekolah di daerah Cengkareng. Adalah naluri hidup bebas yang membawa mereka kembali ke jalanan. Kalau tidak begitu mereka mengaku tidak seperti dikekang. "Biasanya di sekolah nunggu satu bulan dulu baru dikasih pelajaran. Makanya saya kabur terus ngamen lagi," kata Ilham.

    Sementara Agus mengaku sudah tidak tertarik lagi untuk belajar. Buat dia belajar tidak sesuai dengan jiwanya. "Lebih enakan di jalanan dapet uang," kata pria yang berhenti sekolah di kelas enam itu.

    DANANG WIBOWO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.