Tenaga Kerja di Penampungan Diperlakukan Kasar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - Para calon tenaga kerja Indonesia di penampungan milik perusahaan penyalur jasa tenaga kerja PT Mitra Makmur Jaya Abadi, Jagakarsa, Jakarta Selatan, mengaku sering mendapatkan perlakuan kasar dari pihak perusahaan yang menampung mereka.

    "Saya pernah dipukul oleh satpam," ujar Eka Reni Wati, 18 tahun, warga asal Lampung yang sudah berada di penampungan tersebut selama empat bulan.

    Menurut pengakuan TKW lainnya, peristiwa kekerasan tersebut tidak hanya terjadi sekali. "Ada beberapa teman lain yang juga pernah dipukul, tapi sekarang mereka sudah pulang dijemput keluarganya," ujar Titih, 18 tahun, TKW asal Lampung.

    Selain tindak kasar, para perempuan tersebut juga tidak diperbolehkan untuk keluar dari lokasi penampungan. "Kalau belanja kami juga mesti beli di kantin, sama sekali tidak boleh keluar," ujar Emi Yunita Sai, 35 tahun, warga asal Kupang.

    Bangunan utama penampungan PT MMJA tersebut memiliki tiga lantai dengan pagar setinggi 2,5 meter. Lantai bawah dijadikan kantor dan kantin, sedangkan di lantai dua terdapat ruangan seluas 8x10 meter  persegi yang dijadikan tempat tidur sekaligus aula untuk belajar.

    "Setiap hari kami tidur beralaskan kasur lipat di sini, berdesakan karena jumlah kami ratusan," kata Ester Lali Wonda, 35 tahun. "Kami tidak betah di sini kami ingin pulang," ujarnya.

    Sekretaris Jenderal Forum Pemuda Kupang-Jakarta, M. Ardi Mbalembout, mengatakan pihaknya telah mendapatkan laporan perihal adanya tindak kekerasan tersebut.

    "Kami mendapat laporan ada kekerasan fisik, dipukul, bahkan ada yang digundul rambutnya. Sebagian mereka ada yang diperkerjakan ke rumah-rumah penduduk selama beberapa minggu tanpa digaji," ujarnya mendatangi penampungan PT MMJA.

    Selain itu, menurut Ardi, pihak perusahaan juga telah berbohong. "Ada pengingkaran janji dari pihak perusahaan, yang semula bilang selama dua bulan penampungan akan dipekerjakan ke luar negeri namun hingga tujuh bulan tidak juga diberangkatkan," lanjutnya.

    Ia mengaku pihaknya datang ke sana karena sebagian besar calon TKW di penampungan tersebut adalah warga Kupang. "Sekitar 200 dari 300 calon TKW di sini adalah warga Kupang," tambahnya.

    AGUNG SEDAYU 


  • TKI
  •  

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gempa Maluku Utara dan Guncangan Besar Indonesia Selama 5 Tahun

    BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami. Peringatan ini menyusul Gempa Maluku yang terjadi di Jailolo, Maluku Utara, Kamis, 14 November 2019.