Warga Minta Frekuensi Kereta Api Listrik Ditambah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah penumpang KA Ekonomi jurusan Bogor-Jakarta Kota, di stasiun UI, Depok , Selasa (16/2). PT KAI mengusulkan kepada Pemerintah tahun 2010 tarif KA Ekonomi dinaikan 50%; untuk meningkatkan pelayanan kepada msyarakat. ANTARA/Aldino

    Sejumlah penumpang KA Ekonomi jurusan Bogor-Jakarta Kota, di stasiun UI, Depok , Selasa (16/2). PT KAI mengusulkan kepada Pemerintah tahun 2010 tarif KA Ekonomi dinaikan 50%; untuk meningkatkan pelayanan kepada msyarakat. ANTARA/Aldino

    TEMPO Interaktif, Jakarta -Munculnya banyak permukiman baru di Bekasi tidak dibarengi dengan penambahan transportasi massal yang layak. Salah satunya kereta api yang dinilai masih jauh dari harapan warga. Hal ini terungkap dalam sebuah diskusi publik bertema Menuju Layanan Kereta Api Jabodetabek Yang Lebih Customer Oriented.

    Santi, warga Tambun Bekasi mengatakan frekuensi kereta api dari Bekasi menuju Jakarta saat ini masih minim. Dia meminta frekuensi kereta api listrik yang saat ini hanya tiga kali ditambah menjadi 5-8 kali. "Jumlah penduduk Bekasi bertambah, tiap hari kereta api makin ramai. Bahkan ada yang sampai pingsan di dalam kereta," kata Santi.

    Selain itu banyaknya pembatalan jadwal kereta atau kereta yang telat membuat penumpang harus menumpuk di stasiun. Akibatnya, setiap ada kereta yang lewat, kereta sangat penuh hingga berdiri pun sulit. Dani, seorang warga lainnya meminta agar PT. Kereta Api memberi kompensasi kepada penumpang yang harus menunggu lama karena kereta telat. "Apakah tidak ada penanganan yang lebih baik?" katanya.

    Dani mengusulkan agar tiket penumpang karena kereta mogok bisa dikembalikan. Apalagi jika naik kereta api AC Ekspres kemudian mogok, Dani meminta PT. Kereta Api mengembalikan selisih tiket dari harga ekspres ke ac ekonomi yang Rp 5.500. Menanggapi hal ini, Makmur Saeheran, Sekretaris Perusahaan PT. Kereta Api Commuter Jabodetabek mengatakan pengembalian tiket atau kompensasi seperti itu sulit dilakukan karena membutuhkan sumber daya dan waktu yang lama. "Memberikan kompensasi juga sulit, karena banyak penumpang yang tak mengembalikan tiket saat turun," katanya.

    Makmur meminta pemahaman warga atas keterbatasan tersebut. Menurut Makmur banyak hal yang masih terbatas ditangani seperti jika sekarang listrik mati, maka efeknya satu bulan kemudian ada alat yang rusak. "Dan hal itu susah diprediksi," ujarnya.

    TITO SIANIPAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Fahri Hamzah Dari PKS Ke Partai Gelora Indonesia

    Partai Gelora Indonesia didirikan di antaranya oleh Fahri Hamzah dan Anis Matta pada, 28 Oktober 2019. Beberapa tokoh politik lain ikut bergabung.