Pemulung yang Didakwa Miliki Ganja Pernah Dimintai Uang Rp 5 Juta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - Chaerul Saleh Nasution, terdakwa kasus pemilikan ganja satu paket mengaku sempat dimintai uang Rp 5 juta oleh warga yang menangkapnya. Uang itu sebagai bayaran agar Chaerul bisa terbebas dari tuduhan.

    Menurut Chaerul, dia dijebak oleh seorang warga yang menyatakan Chaerul memiliki daun ganja kering yang terbungkus koran seberat 1,68 gram. Penangkapan Chaerul yang dilakukan oleh warga dan bukan pihak kepolisian menurut kuasa hukum Chaerul, Raja Nasution, adalah hal ganjil.

    Saat ditemui Tempo di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (22/2), Chaerul mengaku pada awalnya dia didatangi seorang warga tidak dikenal berperawakan besar dan berkulit hitam. Orang itu kemudian yang menemukan ganja di bawah sofa di lapak yang biasa ditinggali Chaerul.

    Setelah itu, Chaerul digelandang oleh pria misterius tersebut dan beberapa rekannya ke Polsek Kemayoran. Dalam perjalanan menuju Polsek Chaerul mengaku sempat dipukuli dan kemudian diminta uang Rp. 5 juta oleh pria misterius itu. "Mana ada saya uang Rp. 5 juta. Jadi ya pasrah saja namun saya selalu membantah kepemilikan barang itu," kata Chaerul.

    Penemuan ganja di lapak Chaerul menurut pengaca Chaerul tidak cukup kuat untuk dijadikan alat bukti. "Itu kan tempat umum. Siapa saja bisa menaruh ganja di tempat itu. Lain halnya kalau tertangkap tangan atau berada di dalam baju atau tas Chaerul," kata Raja.

    Chaerul mengaku tidak pernah memiliki ganja tersebut. Dalam proses pembuatan berita acara pemeriksaan Chaerul mengaku hanya menandatangani tanpa melihat isinya. Karena itu Raja Nasution merasa banyak kejanggalan atas kasus tersebut. "Pertama yang harus diselidiki siapa yang menangkap klien kami. Apa motifnya dan mengapa dia meminta uang Rp. 5 juta dari klien kami," katanya.

    Raja mengaku saat ini pihaknya masih menunggu hasil penelusuran Propam Polda Metro Jaya atas dugaan rekayasa berita acara yang dilakukan penyidik. "Pemalsuan tanda tangan kan sudah tindakan kriminal. Kami ingin kasus ini ditindak juga dari sisi kriminalitasnya," ujar dia.

    MUTIA RESTY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.