Warga Jembatan Besi Nantikan Air Bersih  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja melakukan pembuatan tanggul sementara dan pemasangan turap baja di lokasi jebolnya Pintu Air Buaran, Kali Malang, Jakarta, Minggu (4/9). Kementerian Pekerjaan Umum menargetkan, pemasangan 60 turap baja di lokasi jebolnya Pintu Air Buaran akan selesai pada sore atau malam hari. TEMPO/Subekti

    Pekerja melakukan pembuatan tanggul sementara dan pemasangan turap baja di lokasi jebolnya Pintu Air Buaran, Kali Malang, Jakarta, Minggu (4/9). Kementerian Pekerjaan Umum menargetkan, pemasangan 60 turap baja di lokasi jebolnya Pintu Air Buaran akan selesai pada sore atau malam hari. TEMPO/Subekti

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Pasokan air bersih ke Jembatan Besi, Jakarta Barat, masih bermasalah. Sebagian warga mengeluh air berwarna kuning, sebagian lainnya mengeluh air kering. Kondisi ini terpantau di Jembatan Besi Raya, Jembatan Besi I, dan Jembatan Besi II. Menurut Ketua RT 12 RW 01 Jembatan Besi Raya, Sapri, air tampak keruh meski tak berbau. Sehari sebelumnya air sempat berwarna merah dan berbau. Jika diendapkan tampak tanah di dasar bak.

    Hal ini dibenarkan oleh Towiyah, 50 tahun, warga RT 12 RW 01. "Semalam merah, kental kayak air teh, bau air got, tapi sekarang mendingan, bisa buat nyuci," kata dia.

    Untuk kebutuhan minum, warga masih harus membeli air minum isi ulang seharga Rp 3.000 per galon. Beberapa warga pun mengantisipasi kebutuhan air bersih dengan kembali menggunakan air tanah.

    Kondisi serupa dialami warga Jembatan Besi I. Khiong, 49 tahun, warga RT 02 RW 02, mengaku keluarganya belum berani menggunakan air ledeng karena warnanya kekuningan. Khiong khawatir air tersebut mengganggu kesehatan bila digunakan. Walhasil selain membeli air isi ulang untuk minum ia juga membeli air dari penjual air keliling untuk kebutuhan MCK. "Satu pikulan Rp 5.000," kata dia.

    Kondisi terparah dialami sebagian warga Jembatan Besi II, di antaranya warga RT 08 RW 01, Kersono, 64 tahun. Ia mengaku air di rumahnya mati total. "Kering," kata dia kesal.

    Tetangga di depan rumahnya, Ket Djung, 50 tahun, mengungkapkan kekeringan terjadi jauh sebelum pintu pelimpas Buaran, Jakarta Timur, runtuh. "Jauh sebelum itu, sejak salurannya diganti," kata dia. Kekeringan berlangsung hampir setengah tahun. "Bayar enggak masalah, tapi air enggak datang," kata dia tampak pasrah.

    MARTHA THERTINA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.