Warga Bekasi Mulai Kesulitan Air Bersih  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ANTARA/Oky Lukmansyah

    ANTARA/Oky Lukmansyah

    TEMPO Interaktif, Bekasi - Warga di Kecamatan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi, mulai kesulitan air bersih untuk dikonsumsi. Pasokan dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bhagasasi menyusut karena sumber air baku dari Kali Cibeet berkurang akibat kemarau. Juru bicara PDAM Tirta Bhagasasi, Endang Kurnaen, mengaku banyak menerima keluhan dari pelanggan air di Bojongmangu. “Kondisi air di wilayah itu saat ini benar-benar sulit,” kata Endang, Selasa, 13 September 2011.

    Pada kondisi normal, kata Endang, PDAM memproduksi air bersih di Bojongmangu sebanyak 40 liter per detik dengan jumlah pelanggan yang teraliri sekitar 1.500 pelanggan. Sejak sebulan lalu, produksinya menyusut menjadi hanya 15 liter per detik. PDAM terpaksa membagi air itu kepada semua pelaggan. Air mengalir hanya 12 jam setiap harinya, itu pun sering tersendat. “Cukup untuk minum saja,” kata dia.

    Adapun untuk kebutuhan lain, seperti mandi dan mencuci, PDAM menggunakan mobil tangki untuk mengangkut air ke wilayah selatan Kabupaten Bekasi itu. Dalam sehari, satu mobil tangki kapasitas 3.000 liter membagikan air secara gratis.

    PDAM Tirta Bhagasasi memiliki sembilan cabang pelayanan, yakni di Rawa Tembaga, Bekasi Kota, Pondok Ungu, Wisma Asri, dan Rawa Lumbu di Kota Bekasi, serta Kecamatan Babelan, Tambun, Cikarang Selatan, dan Cikarang Utara di Kabupaten Bekasi.

    Jumlah keseluruhan produksi air bersih sekitar 2.060 liter per detik dengan jumlah pelanggan sekitar 151 rib. Jumlah tersebut masih minim karena hanya melayani sekitar 15 persen dari total 2,3 juta jiwa penduduk Kabupaten Bekasi dan baru melayani 25 persen dari 2,3 juta jiwa penduduk Kota Bekasi.

    Pasokan air di luar Kecamatan Bojongmangu, kata Endang, masih bagus. Namun PDAM khawatir karena sumber air baku hanya dari Waduk Jatiluhur yang mengalir di Sungai Citarum Barat. Kondisi air Waduk Jatiluhur terus menyusut dan diperkirakan hanya cukup untuk 80 hari ke depan.

    Saat ini, kata Endang, PDAM belum menemukan solusi mengatasi krisis air apabila sumber air baku mengering. Potensi sumber air tanah sangat sedikit, seperti sumber air tanah di Pondok Gede yang dikelola PDAM yang hanya mampu memproduksi 10 liter per detik. “Hanya cukup untuk satu lingkungan perumahan,” katanya.

    Upaya lain adalah dengan membeli air bersih dari PDAM Patriot milik Pemerintah Kota Bekasi. Namun hal itu dinilai terlalu mahal biayanya. Sebulan, PDAM membeli sekitar 4.000 meter kubik air dengan harga Rp 1 miliar.

    Selain krisis air baku, PDAM Tirta Bhagasasi hanya memiliki alat pengolahan air (water tratmen plant) dengan kapasitas terbatas sehingga harus diganti. Apalagi saat ini jumlah daftar tunggu pelanggan sekitar 60 ribu rumah tangga yang belum bisa dilayani karena kemampuan produksinya terbatas.

    Untuk meningkatkan kapasitas produksi air bersih, PDAM akan bekerja sama dengan PT Bekasi Putra Jaya dan Badan Usaha Milik Daerah Kabupaten Bekasi. Kerja sama itu untuk membangun satu unit water tratmen plant di Tegal Gede, Kecamatan Cikarag Selatan, dengan kapasitas 1.000 liter per detik.

    Nilai investasi pembangunan alat pengolahan air bersih itu, menurut Endang, tidaklah sedikit. Produksi air setiap 100 liter per detik membutuhkan dana operasi sekitar Rp 3-5 miliar.

    HAMLUDDIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.