Bekerja Tanpa "Bola Mata"  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang penyandang cacat tengah mengisi formulir pendaftaran untuk interview pada pameran bursa kerja di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (23/9) Sebanyak 25 perusahaan memberikan lahan pekerjaan bagi para penyandang cacat. TEMPO/Tony Hartawan

    Seorang penyandang cacat tengah mengisi formulir pendaftaran untuk interview pada pameran bursa kerja di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (23/9) Sebanyak 25 perusahaan memberikan lahan pekerjaan bagi para penyandang cacat. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Silvia satu-satunya tuna netra dalam keluarga. Lahir di Ambarawa, ia tumbuh dan menghabiskan masa kuliah di Bandung. Ia buta sejak usia 5 tahun karena terjatuh di bioskop. Meski telah menjalani operasi, struktur saraf matanya rusak. "Jadi, saya tetap buta," kata perempuan 40 tahun itu.

    Sejak itu, Silvia Siswanty, nama lengkapnya, mulai menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sama sekali berbeda. Perjalanan hidupnya tak mulus. Ia kerap ditolak saat mencari pekerjaan meski berstatus Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris. Ia tamatan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Siliwangi Bandung tahun 1996.

    Namun perempuan berjilbab ini tidak menyerah. Perjuangannya membuahkan hasil. Ia mendapat kerja sebagai operator telepon di sebuah bank syariah pada 1997. Sayangnya, pada 2006 ia dipecat tanpa alasan jelas. "Begini risiko pekerja tanpa "bola mata"," kata Silvia mengandaikan.

    Jumat, 23 September 2011 pagi, perjuangannya berlanjut. Kali ini, ia melamar di bursa kerja khusus kaum difable di Balai Kartini, Jakarta Selatan. Ia diantar putrinya, Alivia Nurahmi Rafida, 9,5 tahun.

    Putrinya memberinya energi untuk berprestasi. Ia mau membuktikan kepada anaknya bahwa kekurangan bukan halangan untuk bekerja. "Itu prinsip. Saya tidak mau diremehkan," ujar Silvia yang memiliki nilai Indeks Prestasi 2,0 saat kuliah.

    Ia menyadari betapa penting mendapat pekerjaan saat ini. Sudah jatuh tertimpa tangga pula, Juli lalu, Silvia baru saja dicerai suaminya. Kini, ia berjuang seorang diri menafkahi putrinya yang duduk di kelas V sekolah dasar. "Semoga dapat. Saya optimis," lirihnya.

    Silvia melampirkan fotokopi ijazah terakhir dan fotokopi keterangan kerja dalam berkas lamarannya. Ia mendapat giliran wawancara nomor 22. Begitu dipanggil, air mukanya cukup tegang. "Tapi saya bisa menjawab setiap pertanyaan dengan lugas," katanya usai wawancara.

    Pengumuman hasil wawancara akan diumumkan akhir pekan ini. Pelamar akan dihubungi via telepon atau alamat e-mail. Ada ratusan pelamar difable di bursa kerja ini.

    Dalam bursa, sebanyak 25 perusahaan menawarkan posisi pekerjaan untuk mereka. Di antaranya sopir, desain grafis, staf keuangan, administrasi, dan operator telepon.

    HERU TRIYONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.