Lelaki Ini Mengaku Pemilik Rumah Cantik  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rumah cantik menteng di Jl.Teuku Cik Ditiro No. 62, tahun 2001. Dok.TEMPO/ Melly Anne

    Rumah cantik menteng di Jl.Teuku Cik Ditiro No. 62, tahun 2001. Dok.TEMPO/ Melly Anne

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Seorang lelaki mengaku sebagai pemilik rumah cantik yang terletak di pertemuan Jalan Tengku Cik Ditiro dan Ki Mangunsarkoro, Menteng, Jakarta, nomor 62. Dia bukan Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas seperti santer diberitakan.

    Lelaki muda itu datang memenuhi panggilan Tim Sidang Pemugaran Pemerintah Daerah DKI Jakarta yang mengusut dugaan pelanggaran pemugaran rumah cantik. “Kami kaget juga ketika sidang yang muncul malah orang lain,” kata Bambang Eryudhawan yang jadi Ketua Tim Sidang Pemugaran kepada Tempo, Jumat pekan lalu. Orang yang mengaku sebagai pemilik rumah cantik itu, kata Bambang, adalah pria muda dari Lokasari, Jakarta. Bambang mengaku lupa nama pria itu.

    Menurutnya, si pemilik mengaku khilaf telah membongkar rumah serampangan. Demikian pula kontraktor pembongkarannya yang berasal dari Bandung. “Mereka bilang tak tahu kalau rumah cantik itu merupakan cagar budaya,” ujar Bambang. Dalam sidang itu diputuskan rumah cantik harus dikembalikan seperti kondisi semula.

    Sebelumnya santer diberitakan pemilik rumah cantik yang terletak di pertemuan Jalan Tengku Cik Ditiro dan Ki Mangunsarkoro, Menteng, Jakarta, nomor 62 adalah Edhie Baskoro Yudhoyono, putra bungsu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun Ibas, demikian dia akrab dipanggil, membantah sebagai pemilik baru rumah itu.

    Sebaliknya sumber Tempo mengatakan pembeli rumah itu betul Ibas. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang dua pekan lalu menikahi Siti Rubi Aliya Rajasa itu bahkan membelinya tanpa perantara. “Ia datang ke sana pada malam hari,” katanya.

    Tanpa banyak tanya, Ibas begitu saja memenuhi permintaan Sari Shudiono. Jumlahnya bukan Rp 16 miliar seperti yang ramai diberitakan, tapi jauh lebih besar: Rp 27 miliar. Rupiah segera ditransfer begitu seorang perempuan suruhan Sekretaris Jenderal Partai Demokrat itu selesai mengecek sertifikat rumah ke Badan Pertanahan Nasional.

    Lewat pesan singkat yang dikirim staf ahlinya, Bonggas Adhi Chandra, Ibas membantah telah membeli rumah tersebut. “Saat ini saya masih menetap bersama orang tua, sembari berikhtiar segera menempati rumah sendiri,” katanya. “Insya Allah saya masih menyesuaikan dengan laporan harta kekayaan saya--dan amin suatu saat, entah kapan, saya pun bisa merasakan ‘rumah cantik/ganteng’ tersebut.”

    Setahun lalu, kondisi rumah jauh dari merana. Rumah bergaya villa indies ini begitu permai. Bebunga warna-warni tumbuh di pot-pot di sejumlah sudut pekarangan. Dibangun pada 1932, rumah seluas 350 meter persegi itu--lahannya 863 meter persegi--tak jauh beda dengan arsitektur aslinya. Atapnya yang bergaya wolfdak masih dipertahankan. Kusen berserta daun pintu dan jendelanya yang jati tak pernah diganti sejak pertama didirikan. Karena keindahannya, orang-orang menyebutnya “rumah cantik”.

    Pemilik lama, Sri Supatmo Sari Shudiono, mulai menghuni rumah itu pada 1958, beberapa bulan setelah menikah dengan Shudiono, seorang pengusaha. Shudiono memperoleh rumah itu dari NV Versluis, seorang Belanda, setelah mengantongi vestigingbewijs (VB) atau surat izin perumahan. Versluis bukan pemilik pertama rumah itu. Pemilik aslinya adalah Mansvield, juga seorang Belanda. Sebelum berpindah tangan ke Versluis, rumah itu ditempati keluarga Elmer, orang Swiss.

     SETRI YASRA I ANTON SEPTIAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Anwar Usman dan 8 Hakim Sidang MK dalam Gugatan Kubu Prabowo

    Mahkamah Konstitusi telah menunjuk Anwar Usman beserta 8 orang hakim untuk menangani sengketa pemilihan presiden 2019.