27 SPBU di Jakarta Jadi Taman

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO Interaktif, Bogor - Membuat Jakarta semakin sejuk dan hijau dengan memiliki ruang terbuka hijau yang ideal tidak mudah. Mahalnya harga tanah dan tingginya okupansi lahan pertamanan oleh masyarakat membuat Pemerintah DKI Jakarta kesulitan mencari lokasi ruang terbuka hijau (RTH).

    Menurut Kepala Seksi Pembangunan Sarana dan Prasarana Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, Themi Kendra Putra, salah satu upaya yang dilakukan institusinya untuk membuat Jakarta semakin hijau adalah dengan mengembalikan fungsi lahan, seperti Stadion Menteng dan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

    "Sepanjang tahun 2009 - 2012 sudah 27 lahan bekas SPBU dengan luas tanah 39.105 meter persegi yang fungsinya dikembalikan menjadi RTH," kata dia dalam acara "Diseminasi Informasi" di Puncak, Bogor, Sabtu 10 Desember.

    Saat ini, lanjut Themi, Jakarta memiliki RTH seluas 6.359 hektare atau 8,90 persen dari luas wilayah 64.895 hektare. Target peningkatan RTH berdasarkan rancangan RTRW 2010-2030 adalah 30 persen dari luas kota atau setara dengan 19.900 hektare.

    Kata dia, untuk mencapai target tersebut dilakukan pembebasan lahan untuk pembangunan pertamanan dan pemakaman. Selain itu, upaya pengembalian fungsi lahan melalui program refungsionalisasi.

    "Juga penghijauan kota dengan penanamanan pohon pelindung. Kami pun menjalin kemitraan serta melakukan penyuluhan kepada masyarakat," ujar dia.

    Disebutkan, Dinas Pertamanan dan Pemakaman sepanjang tahun 2006-2011 telah membebaskan lahan untuk taman di 49 lokasi dengan luas 2.719 hektare. "Kami sudah menanam pohon pelindung sebanyak 2.635 batang pada tahun 2010," katanya.

    ARIHTA U SURBAKTI



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.