Modus Kejahatan di Angkot Jadi Tren

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • veteranstoday.com

    veteranstoday.com

    TEMPO Interaktif, Jakarta: - Kejahatan di angkutan kota (angkot) terjadi lagi di wilayah hukum Kepolisian Daerah Metro Jaya. Pelaku merampok dan memperkosa korban. Setelah puas, pelaku meninggalkan korban, yang mengalami cedera, di pinggir jalan.


    Ironisnya, peristiwa ini terjadi justru ketika polisi tengah giat menggelar razia. "Polisi gagal memberikan rasa aman kepada masyarakat," kata Presidium Indonesia Police Watch Neta S. Pane melalui telepon, Rabu 14 Desember 2011.


    Menurut Neta, kejahatan di angkot sudah berulang kali terjadi. "Modus ini sepertinya menjadi tren," katanya. Sebagai penegak hukum, kata Neta, polisi seharusnya bisa mengambil langkah pencegahan. Namun, alih-alih polisi melakukan pencegahan, jumlah kasus justru bertambah.

    Kasus pemerkosaan terakhir terjadi kemarin dinihari. Korban adalah seorang perempuan, pedagang sayur, yang tinggal di Depok. Sekitar pukul 04.00 WIB, korban ke luar rumah untuk berbelanja sayuran di Pasar Kemiri Muka, Beji, Depok.

    Untuk ke Pasar Kemiri, korban biasa menunggu angkutan di Jalan Raden Saleh. Saat itu melintas angkot M-26 rute Kampung Melayu-Bekasi. Sopir menghentikan kendaraan dan menawarkan diri untuk mengantar korban. Tanpa curiga, korban naik.

    Berdasarkan keterangan korban kepada polisi, di dalam angkot sudah ada empat lelaki, termasuk sopir. Saat angkot bergerak, salah satu penumpang mengeluarkan golok. Korban berusaha melawan, tapi sia-sia. Pelaku mengayunkan senjata dan melukai bahu kiri korban. "Korban diperkosa," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Depok Ajun Komisaris Febriansyah.

    Sopir angkot membawa korban berputar-putar hingga kawasan Cibubur. Anting-anting korban dirampas. Begitu juga dengan uang Rp 500 ribu yang akan digunakan untuk berbelanja sayuran. Pelaku kemudian menurunkan korban di jalan sepi di wilayah Cikeas, Bogor. "Korban ditemukan petugas Patroli Jalan Raya, lalu diantar ke Polsek Cimanggis," kata Wakil Kepala Satuan Reskrim Polres Depok Ajun Komisaris Hendro Wiyono.

    Di Depok, aksi kriminal di dalam angkot pernah dialami Elvira Taufani, 40 tahun, pada 1 Januari 2011. Karyawati sebuah perusahaan swasta itu dirampok lima lelaki di dalam angkot D-04 rute Terminal Depok-Kukusan. Pelaku memaksa korban mengeruk uang 15 juta dari anjungan tunai mandiri. Setelah itu, korban dibuang ke Kampung Rawa Kalong, Tambun, Bekasi.

    Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Depok Rintis Yanto meminta pemerintah kota memberi perhatian khusus agar kasus-kasus seperti ini tidak terulang. "Harus segera diatasi," kata Rintis.

    Langkah antisipasi yang bisa dilakukan pemerintah, kata Rintis, antara lain memperketat aturan trayek angkutan umum. Dia juga meminta pemerintah membenahi sarana umum di titik-titik rawan. "Lampu penerangan jalan dan pos polisi harus dibangun," katanya.

    l ILHAM | EVANA | INU KERTAPATI | SUSENO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kebijakan Lockdown Merupakan Kewenangan Pemerintah Pusat

    Presiden Joko Widodo menegaskan kebijakan lockdown merupakan wewenang pusat. Lockdown adalah salah satu jenis karantina dalam Undang-undang.