Bus Hantam Angkot di Jagorawi, 16 Cedera  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP/Laurent Cipriani

    AP/Laurent Cipriani

    TEMPO.CO, Bogor - Kecelakaan yang melibatkan kendaraan umum kembali terjadi. Sebuah angkutan kota terbalik di Tol Jagorawi Kilometer 32, tepat sebelum Pintu Tol Citeureup, Bogor, Jawa Barat, Ahad 12 Februari 2012. Tak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun 15 penumpang dan sopir angkot mengalami cedera.

    "Semua korban dilarikan ke Rumah Sakit Bina Husada Cibinong untuk mendapat penanganan medis. Sebanyak 4 korban luka berat dan 12 lainnya luka ringan," kata Kepala Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Bogor Ajun Komisaris Syarif Zainal Abidin.

    Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 13.30, ketika angkot bernomor polisi F 1902 NC jurusan Ciawi-Cileungsi melaju dari Ciawi ke Cileungsi melalui tol Jagorawi. Jelang gerbang tol Citeureup, bagian bumper belakang angkot ditabrak bus pariwisata nomor polisi B 8373 DM. Akibat hantaman tersebut, angkot warna biru itu terguling dengan posisi roda di atas.

    "Sopir bus sudah diamankan di Mapolres, sedangkan sopir angkot masih menjalani perawatan di rumah sakit Bina Husada," jelas Kasat Lantas.

    Menurut kesaksian seorang penumpang angkot, Hendra Junaedi, 29 tahun, warga Cicurug, Sukabumi, tabrakan terjadi ketika angkot diminta berhenti di Citeuteup oleh seorang penumpang. Seharusnya angkot tujuan Cileungsi ini keluar di gerbang tol Cibubur.

    Karena permintaan penumpang, seketika sopir yang belum diketahui identitasnya itu membelokkan kemudi ke kiri jalan untuk keluar tol. "Tadinya posisi mobil di jalur tengah," ungkap Hendra.

    Perpindahan jalur secara tiba-tiba itu membuat bus yang melaju di belakang angkot tak mampu mengendalikan kecepatan. Akibatnya, dalam hitungan detik bus menghantam angkot sampai terbalik.

    ARIHTA U SURBAKTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.