Pedestrian Hayam Wuruk-Gajah Mada Ditata Agustus  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah kendaraan bermotor parkir di jalan Gajah Mada, Jakarta. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Sejumlah kendaraan bermotor parkir di jalan Gajah Mada, Jakarta. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta bakal melakukan penataan jalur pejalan kaki (pedestrian) yang berada di sepanjang Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat, dan Gajah Mada, Jakarta Pusat.

    Menurut Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman Catharina Suryowati, pengerjaan bakal dilakukan pada Agustus 2012. "Diperkirakan akan berjalan selama empat bulan," ujar Catharina usai sosialisasi penataan pedestrian di Kantor Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat, Rabu, 28 Maret 2012.

    Penataan tersebut, kata Catharina, mendesak dilakukan mengingat para pejalan kaki kerap kesulitan bila melintasi kawasan Gajah Mada dan Hayam Wuruk karena terhalangi parkir kendaraan bermotor.

    Nantinya trotoar akan dinaikkan setinggi 25 sentimeter dengan lebar minimal 2,5 meter. Untuk trotoar di Jalan Gajah Mada, kata Catharina, bakal mengalami pelebaran menjadi 3,1-6,7 meter.

    Penataan trotoar akan disesuaikan dengan kondisi di lapangan. "Karena permukaan trotoar berbeda-beda dan ada yang tidak rata," kata dia. Salah satunya, ada trotoar yang terhalangi oleh jembatan penyeberangan orang sehingga menjadi sempit.

    Untuk mengatasinya, akan ada trotoar yang mengambil bahu jalan. Ketinggian trotoar pun nantinya akan berbeda-beda. Perbedaan ini untuk memudahkan akses kendaraan yang akan keluar masuk pertokoan atau gedung.

    Berdasar pengamatan di lapangan, situasi trotoar di sepanjang Jalan Hayam Wuruk dan Gajah Mada penuh oleh kendaraan motor yang terparkir. Meski sudah ada rambu dilarang parkir, para pengunjung pertokoan tetap memarkir kendaraan roda dua di bahu jalan dan trotoar.

    Tidak hanya ramai oleh kendaraan bermotor, jalur pedestrian sepanjang sekitar satu kilometer dan lebar dua hingga tiga meter itu juga ramai oleh para pedagang kaki lima.

    Penataan trotoar ini, menurut Catharina, sebagai upaya untuk menata kawasan perdagangan Gajah Mada dan Hayam Wuruk menjadi lebih bersih dan rapi. Kota besar seperti Jakarta, ucapnya, sudah seharusnya memiliki pedestrian yang baik.

    "Idealnya sih trotoar seperti di Jalan Jenderal Sudirman dan M.H. Thamrin. Kalau tidak bisa setidaknya mendekati lah," ujarnya.

    Catharina mengakui ada beberapa pihak yang berkeberatan dengan penataan pedestrian. Namun ia berharap hal itu tidak mengganggu pengerjaan nantinya. "Kami kan ingin melayani publik, khususnya pejalan kaki," katanya.

    ADITYA BUDIMAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Misteri Paparan Radiasi Cesium 137 di Serpong

    Bapeten melakukan investigasi untuk mengetahui asal muasal Cesium 137 yang ditemukan di Serpong. Ini berbagai fakta soal bahan dengan radioaktif itu.