Polda Terima Banyak Keluhan Soal Aksi Anarkistis

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah mobil Polisi di bakar massa dalam kerusuhan saat demonstrasi menolak kenaikan harga BBM 1 April  mendatang di pejompongan , Jakarta, Jumat 30 Maret 2012.TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo.

    Sebuah mobil Polisi di bakar massa dalam kerusuhan saat demonstrasi menolak kenaikan harga BBM 1 April mendatang di pejompongan , Jakarta, Jumat 30 Maret 2012.TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo.

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Kepala Kepolisian Daerah Polda Metro Jaya Brigadir Jenderal Suhardi Alius mengatakan Kepolisian Daerah Metro Jaya menerima banyak keluhan dari masyarakat terkait tindakan anarkistis yang dilakukan para pengunjuk rasa saat beraksi menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di berbagai tempat di Jakarta akhir Maret 2012 lalu.

    Menurut dia, para pengunjuk rasa tak bisa semata-mata mengatasnamakan hak asasi manusia lalu melakukan tindakan anarkistis. Hak asasi manusia, kata Suhardi, dibatasi hak asasi orang lain. “Kalau sudah sampai membakar ban atau menutup jalan, itu mengganggu hak masyarakat (untuk menggunakan jalan)," kata Suhardi saat ditemui di Balai Kota DKI Jakarta, Senin, 2 April 2012.

    Kepolisian, kata dia, tak akan sembarangan melakukan langkah represif untuk menghadapi pengunjuk rasa. Langkah represif, kata dia, adalah langkah terakhir yang dilakukan secara terukur.

    "Kalau pengunjuk rasa sudah melukai, tentu harus ada tindakan," katanya.

    Pada 27-30 Maret 2012 lalu, demonstrasi menolak kenaikan harga BBM berlangsung setiap hari di Jakarta. Beberapa aksi di Gambir, Salemba, dan depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat berakhir ricuh. Selama sepekan, Polda Metro Jaya menangkap 135 pengunjuk rasa.

    ANGGRITA DESYANI

    Berita terkait:
    Pengamanan DKI Normal Lagi

    Tiga Polisi Juga Terkena Air Keras


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.