Kamis, 19 Juli 2018

Kebutuhan Jalan Layang Bus TransJakarta Mendesak  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah bus Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway (APTB) melintas di Jalan Raya Bekasi seusai diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo di Pool Bus Hiba Utama, Jalan Raya Bekasi Km 26, Cakung, Jakarta Timur, Rabu (28/3). Untuk mempermudah mobilitas warga dari Bekasi, Dinas Perhubungan DKI Jakarta meluncurkan APTB yang memiliki dua feeder, yakni rute Pulo Gadung-Bekasi yang terintegrasi dengan koridor II (Pulo Gadung-Harmoni) dan koridor IV (Pulo Gadung- Dukuh Atas 2). Tempo/Tony Hartawan

    Sebuah bus Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway (APTB) melintas di Jalan Raya Bekasi seusai diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo di Pool Bus Hiba Utama, Jalan Raya Bekasi Km 26, Cakung, Jakarta Timur, Rabu (28/3). Untuk mempermudah mobilitas warga dari Bekasi, Dinas Perhubungan DKI Jakarta meluncurkan APTB yang memiliki dua feeder, yakni rute Pulo Gadung-Bekasi yang terintegrasi dengan koridor II (Pulo Gadung-Harmoni) dan koridor IV (Pulo Gadung- Dukuh Atas 2). Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta: Pemerintah didesak segera membangun jalan layang khusus bus Transjakarta. Selama ini, daya angkut dan jelajah bus Transjakarta terhambat akibat jalur yang tidak steril. Meskipun sterilisasi jalur terus menerus dilaksanakan, hasilnya belum optimal karena keterbatasan petugas.

    “Jalan layang membuat Transjakarta bisa melaju tanpa hambatan,” kata anggota Dewan Transportasi Kota Jakarta, Iskandar Abubakar, dalam diskusi tentang “Pembangunan Jalan Layang Khusus Transjakarta” di kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Rabu, 18 Juli 2012.

    Iskandar menuturkan tingkat kecepatan rata-rata perjalanan terus menurun sejak 1985. Pada tahun tersebut, kecepatan lalu lintas di Jakarta sebesar 26,3 kilometer per jam. Angka ini terus menurun menjadi 16,1 kilometer per jam pada 2000. Tahun lalu, kecepatan ini turun drastis menjadi 6,1 kilometer per jam. “Melakukan perjalanan di Jakarta semakin sulit,” ujarnya.

    Dibandingkan dengan transportasi publik di negara lain, kapasitas dan kecepatan Transjakarta termasuk rendah. Di Guangzhou, misalnya, transportasi publiknya memiliki daya angkut 25.000 penumpang per jam dengan kecepatan rata-rata 25 kilometer per jam. Pada Trans Mileno, Bogota, daya angkut mencapai 35.000 penumpang per jam dengan kecepatan 25 kilometer per jam. Iskandar menyatakan kapasitas Transjakarta hanya sebesar 5.000 penumpang dengan kecepatan 21 kilometer per jam.

    Iskandar menyatakan jalan layang menjadi salah satu solusi agar kecepatan dan daya angkut Transjakarta bisa meningkat. Hal itu dinilai lebih bisa menarik minat masyarakat untuk menggunakan transportasi publik. “Kunci utamanya adalah cepat dan murah,” kata dia.

    Beberapa koridor jalan yang memungkinkan dibangun jalan layang adalah Jalan Raya Pasar Minggu untuk koridor Manggarai–Universitas Indonesia, Depok, dan Jalan Raya Ciledug untuk koridor Blok M–Ciledug. Iskandar menyatakan pemerintah bisa belajar dari Xiamen di Cina dan Nagoya di Jepang yang sukses mengembangkan jalan layang khusus bus. “Segera mulai bangun jalan layang bus di Jakarta,” ucapnya.

    WAYAN AGUS P

    Berita Terkait:
    Jokowi-Ahok Terima 40 Juta Dolar dari Vatikan?

    Juara American Idol Terpesona Indonesian Idol

    Pemain Muda Indonesia Ini Dipuji Mirip Xavi

    Misteri Terjawab, Wanita Itu Istri Jong Un

    Demi Tujuan Ini, Sultan Rela Tinggalkan Golkar

    Kalla Pilih Pinangan Mana, Gerindra atau NasDem?

    Dianggap Aneh, 7 Olahraga Ini Dihapus di Olimpiade

    Warisan Abadi Marissa Mayer di Google

    Kalah Hitung Manual, Ini Komentar Tim Foke

    Marissa Mayer Hamil 5 Bulan Saat Dipinang Yahoo!


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Venna Melinda dan Legislator yang Pindah Partai di Pemilu 2019

    Beberapa politikus pindah partai dalam pendaftaran calon legislator untuk Pemilu 2019 yang berakhir pada 17 Juli 2018. Berikut beberapa di antaranya.