Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Begini Tradisi Tawuran Diturunkan di Sekolah

image-gnews
Posko terpadu penanggulangan perkelahian remaja di GOR Bulungan, Jakarta Selatan. TEMPO/Jacky Rachmansyah
Posko terpadu penanggulangan perkelahian remaja di GOR Bulungan, Jakarta Selatan. TEMPO/Jacky Rachmansyah
Iklan

TEMPO.CO , Jakarta--Meski banyak kalangan menyangkal, tawuran antarpelajar boleh dibilang tak lepas dari indoktrinasi para seniornya. Simak penuturan Azhar, alumnus SMA Negeri 70, Jakarta Selatan. Menurut dia, indoktrinasi dari senior untuk melakukan tawuran sudah ditanamkan cukup lama. Itu dimulai sejak sekolahnya mengenal tradisi nama angkatan pada 1989. "Angkatan pertama namanya Gabungan Anak Bulungan, nongkrongnya di Apotek Borobudur,” katanya seperti dikutip Koran Tempo edisi Ahad 21 Oktober 2012.

Tradisi nama angkatan, Azhar menambahkan, berpijak pada tahun kelulusan. Biasanya, nama-nama yang digunakan adalah istilah-istilah pemberontakan, misalnya Separatis (angkatan 1992), Legiun (1993), Rezim (1994), Ekstrimis (1995), hingga Trabalhista (2012). Tradisi itu terus dilanggengkan hingga kini. “Saya angkatan 1995, Ekstrimis,” ujarnya.

Indoktrinasi itu sudah dimulai sejak kelas I (sekarang disebut kelas X). “Setiap kelas I belum boleh memakai nama angkatan, kecuali setelah dilantik. Kami memang didoktrin menggunakan nama angkatan dan harus mempunyai prestasi,” kata Azhar, yang menjadi bendahara di angkatannya ini.

Prestasi yang dimaksud, tutur Azhar, tentu saja bermakna menyerang sekolah lain. Dan dalam tradisi indoktrinasi itu, para senior biasanya juga menyebutkan sekolah-sekolah mana saja yang menjadi musuh mereka.

Menurut Azhar, pada masanya, musuh utama sekolahnya adalah SMA Negeri 1 Boedi Oetomo (Boedoet), STM Penerbangan (kini SMK 29 Jakarta), SMAN 46 Jakarta, dan SMA Negeri 82. Semuanya di Jakarta. “Dulu SMA 6 enggak ribut karena mereka pasrah. Makanya, bagi alumni, tawuran dengan SMA 6 itu sebenarnya penurunan,” ujarnya, bercanda.

Tradisi pembentukan angkatan, tutur Azhar, cukup gampang dilakukan di sekolahnya dulu, karena jumlah siswanya banyak. Saat dia sekolah, jumlah siswanya mencapai sekitar 1.940 orang. “Kelas satu saja 19 kelas,” katanya. “Tapi sekarang sepertinya jumlah siswanya diturunkan karena SMA 70 menjadi sekolah unggulan.”

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Setiap angkatan memiliki “jenderal-jenderal”. Untuk kelas I, posisi jenderal ini masih mencari dan saling menunjuk. “Biasanya ada dua atau tiga orang yang gayanya sangar-sangar,” katanya.

Kelas I yang masih mencari ini biasanya dipersiapkan dan dilindungi siswa kelas III (sekarang disebut kelas XII). Mereka melakukan pengkaderan terhadap 75-90 orang di setiap angkatan sebelum berkonsentrasi menghadapi ujian akhir dan ujian masuk perguruan tinggi. Begitu kelas I berani menyerang sekolah lain, mereka sah disebut angkatan dan dilantik. “Pelantikannya kayak dibaptis,” ujarnya, terkekeh.

Adapun siswa kelas II (sekarang disebut kelas XI) posisinya serba tanggung. Mereka merasa masih ditekan oleh kelas III, tapi tak kuasa memperdaya kelas I lantaran dilindungi kelas III. “Makanya enggak aneh, yang sering tawuran kelas II karena butuh penyaluran.”

ISTIQMATUL HAYATI | RIKY FERDIANTO

Baca juga:
Busway Ciputat-Kota Rasa Kopaja

Empat Pria Perkosa Gadis Cacat Mental

Tangerang Ancam Cabut Izin RS yang Diskriminatif

Kenaikan Tarif Parkir Jakarta Ditolak dan Diterima

Kurang Sosialisasi, APTB Ciputat-Kota Masih Sepi

Normalisasi Kali Lamban, Jakbar Terancam Banjir

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Polisi Tangkap Pelajar SMK Terlibat Tawuran yang Tewaskan Siswa SMP

29 Mei 2022

Ilustrasi tawuran. TEMPO/Iqbal Lubis
Polisi Tangkap Pelajar SMK Terlibat Tawuran yang Tewaskan Siswa SMP

Polisi menangkap satu orang pelaku tawuran yang mengakibatkan seorang pelajar sekolah menengah pertama (SMP) berinisial F (17) tewas.


Satu Tewas Dalam Tawuran Pelajar di Cileungsi

14 September 2018

123rf.com
Satu Tewas Dalam Tawuran Pelajar di Cileungsi

Polisi telah menangkap 18 siswa yang diduga terlibat dalam tawuran pelajar di Jalan Raya Cileungsi-Jonggol Desa Cileungsi Kidul.


Tawuran Sadistis, KPAI: Sekolah Jangan Cuci Tangan

8 September 2018

Kepolisian Resor Jakarta Selatan menunjukan satu dari 10 tersangka tawuran yang menyebabkan siswa SMA Muhammadiyah 15 tewas, Kamis, 6 September 2018. Tempo/Imam Hamdi
Tawuran Sadistis, KPAI: Sekolah Jangan Cuci Tangan

KPAI meminta pihak sekolah jangan cuci tangan dengan mengeluarkan siswa pelaku tawuran dari sekolah.


Tawuran Pelajar Direncanakan Lewat Medsos, Polisi Bakal Patroli Siber

6 September 2018

AH, siswa SMA Muhammadiyah 15, menjadi korban di tawuran pada Sabtu, 1 September 2018. TEMPO/M Julnis Firmansyah
Tawuran Pelajar Direncanakan Lewat Medsos, Polisi Bakal Patroli Siber

Pada tawuran kelompok Sparatiz dengan Redlebbels didahului tantangan lewat Line dan Instagram.


Polisi Tetapkan 10 Tersangka Tawuran Sadistis Remaja di Kebayoran Lama

6 September 2018

Kepolisian Resor Jakarta Selatan menunjukan satu dari 10 tersangka tawuran yang menyebabkan siswa SMA Muhammadiyah 15 tewas, Kamis, 6 September 2018. Tempo/Imam Hamdi
Polisi Tetapkan 10 Tersangka Tawuran Sadistis Remaja di Kebayoran Lama

Tawuran pelajar sadistis yang melibatkan dua geng remaja menyebabkan seorang pelajar SMA Muhammadyah tewas.


10 Kamera CCTV Pengawas Tawuran di Pasar Rumput Belum Terpasang

5 September 2018

Ilustrasi pemantauan jalan raya dengan Closed Circuit Television (CCTV). ANTARA/Rivan Awal Lingga
10 Kamera CCTV Pengawas Tawuran di Pasar Rumput Belum Terpasang

Hingga saat ini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta belum memasang kamera pengawas atau CCTV di Pasar Rumput, meski marak tawuran di daerah itu.


Pelaku Tawuran di Kebayoran Terlacak, Polisi Tangkap 29 Pelajar

4 September 2018

Ilustrasi tawuran. TEMPO/M. Iqbal Ichsan
Pelaku Tawuran di Kebayoran Terlacak, Polisi Tangkap 29 Pelajar

Polisi bertindak tegas kepada pelajar-pelajar yang terlibat tawuran itu karena perilaku mereka cenderung sadistis.


Pelaku Tawuran di Kebayoran Sadistis, Polisi: Dipengaruhi Miras

4 September 2018

Ilustrasi tawuran pelajar. Dok. TEMPO/Dasril Roszandi;
Pelaku Tawuran di Kebayoran Sadistis, Polisi: Dipengaruhi Miras

Pelajar-pelajar yang ditangkap mengakui telah menenggak minuman keras sebelum mereka tawuran dengan kelompok lawan.


Polisi Sebut Ada Pergeseran Pola Tawuran Pelajar di Jakarta

4 September 2018

Ilustrasi tawuran. TEMPO/Iqbal Lubis
Polisi Sebut Ada Pergeseran Pola Tawuran Pelajar di Jakarta

Polisi melihat adanya pergeseran pola tawuran pelajar yang terjadi di DKI Jakarta. Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Jakarta Selatan Ajun Komisaris Besar Stefanus Tamuntuan mengatakan tawuran saat ini banyak terjadi pada malam dan dini hari, dari yang biasanya siang atau sore selepas pulang sekolah


Tawuran Pelajar Sadistis Diawali Tantangan di Instagram

4 September 2018

Ilustrasi tawuran/perkelahian pelajar/kekerasan di kampus/sekolah. Shutterstock
Tawuran Pelajar Sadistis Diawali Tantangan di Instagram

Tawuran pelajar yang terjadi di depan Apartemen Belleza itu melibatkan lebih dari 50 remaja.