5 Keluhan Warga Soal Jakarta Car Free Night  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah personel kepolisian bersepeda melakukan patroli pada saat digelar malam bebas kendaraan bermotor (Jakarta Car Free Night) pertama pada malam pergantian tahun 2013 di Jalan MH Thamrin, Jakarta, (31/12). ANTARA/Ismar Patrizki

    Sejumlah personel kepolisian bersepeda melakukan patroli pada saat digelar malam bebas kendaraan bermotor (Jakarta Car Free Night) pertama pada malam pergantian tahun 2013 di Jalan MH Thamrin, Jakarta, (31/12). ANTARA/Ismar Patrizki

    TEMPO.CO, Jakarta -- Kemeriahan Jakarta Car Free Night dalam menyambut pergantian tahun telah usai. Semalam, jutaan orang tumplek di sepanjang Jalan Sudirman hingga M.H. Thamrin untuk menikmati malam pergantian tahun. Ibarat pepatah, tak ada gading yang tak retak, acara ini pun tak luput dari kekurangan.

    Tempo mencoba merekam lima hal yang dikeluhkan warga selama jalannya acara. Meskipun ada kekurangan, warga meminta acara ini diselenggarakan lagi tahun depan dengan perbaikan.

    1. Minim toilet
    Jutaan warga yang tumplek di acara Car Free Night tidak berbanding dengan toilet yang ada. Mereka yang ada di sekitar Bundaran HI terpaksa antre hingga 5 meter untuk menggunakan toilet. Itu pun menumpang di Pos Polisi Bundaran HI.

    2. Tidak ramah bagi pengguna sepeda
    Car Free Night mengusung konsep mirip Car Free Day, yang diadakan setiap hari Ahad. Hal ini membuat Eva beserta suami dan dua anaknya membawa sepeda. Sayangnya, bayangan mereka buyar begitu melihat jutaan pejalan kaki benar-benar menutup jalan.

    "Agak kecewa, sih, tapi mau bagaimana lagi, orang-orang kan penasaran," katanya semalam. Dia dan pengendara sepeda lainnya berharap tahun depan hal ini menjadi prioritas. "Ada rute khusus sepeda juga," ujar Akbar, warga lainnya.

    3. Minim tenaga medis
    Dalam sebuah acara apa pun, tenaga medis tentunya menjadi prioritas. Apalagi semacam Car Free Night, di mana jutaan orang berkumpul di satu tempat. Pingsan akibat kekurangan oksigen menjadi salah satu masalah tersendiri.

    Sayangnya, menurut pantauan Tempo, jumlah tenda medis yang ada sangat sedikit, tidak lebih dari 10. Itu pun letaknya jauh dan sulit diakses. Bahkan Tempo melihat ada warga yang diberi pertolongan oleh rekannya di atas mobil salah satu televisi nasional. "Cari pos kesehatan susah," kata rekannya.

    4. Hiburan kurang terpusat
    Meskipun ada 16 jenis hiburan, rupanya warga menilai hal ini malah membingungkan. "Penginnya lihat semua, tapi sulit," kata salah seorang warga. Alasannya, warga Palmerah ini datang dari arah Sudirman sehingga harus berjalan jauh jika harus ke panggung hiburan yang ada di M.H. Thamrin.

    Andri, warga lainnya, menilai lebih baik hiburan dikumpulkan di satu panggung utama yang ada di Bundaran HI, atau ada panggung lain tapi jaraknya dekat dari Bundaran HI. "Kan semua orang kumpulnya di Bundaran HI," ujarnya.

    5. Karnaval yang tidak jelas
    Sekitar ratusan orang berjalan dari arah M.H. Thamrin menuju Bundaran HI. Mereka adalah rombongan peserta karnaval di acara Car Free Night. Menggunakan berbagai kostum seperti pakaian adat Bali atau Betawi, mereka memamerkan kebolehan.

    Sayang, sebagian warga kurang antusias pada iring-iringan ini. Bahkan warga yang ada di bagian Jalan Sudirman tidak tahu adanya karnaval. Simak pernak-pernik tahun baru 2013 di tempo.co.

    SYAILENDRA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H