Hercules Dijerat Empat Pasal  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua umum Gerakan Rakyat Indonesia Baru dari  partai Gerindra, Hercules Rosario. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Ketua umum Gerakan Rakyat Indonesia Baru dari partai Gerindra, Hercules Rosario. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Hercules Rozario Marshal bakal dijerat dengan empat jenis pasal atas kasusnya. "Dia melakukan tindakan melanggar hukum, seperti perusakan, kekerasan, melanggar Undang-Undang Darurat Kepemilikan Senjata, penghasutan, dan melawan petugas yang sah," ujar juru bicara Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, Sabtu, 9 Maret 2013.

    Hercules dikenai Pasal 160 KUHP tentang Penghasutan, Pasal 114 KUHP karena melawan petugas yang sah, dan Pasal 170 tentang Pengeroyokan. Semuanya dengan ancaman hukuman di atas 5 tahun penjara. Satu lagi, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1951 Pasal 2 karena kepemilikan senjata api dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.

    Rekan dia, Muhammad Sidiq, juga dikenai Pasal 160 KUHP, Pasal 114 KUHP, Pasal 170 KUHP. Kawannya pula yang berinisial J dijerat Pasal 170 KUHP, Pasal 114 KUHP, dan Pasal 2 UU Nomor 12 Tahun 1951.

    Adapun 46 anak buahnya yang lain hanya dikenai Pasal 114 KUHP dan Pasal 170 KUHP. Mereka adalah HC, JO, HL, ND, YM, YK, CS, HS, MC, PDM, BR, EA, AK, AM, RH, YK, YS, ABH, ST, YN, SH, AM, AS, FM, MS, A, J, S, AL, F, PPS, A, S, RW, PS, AA, HS, FMM, AL, YA, ED, AS, J, RK, J, dan MRN. Polres Jakarta Barat dan Polda menangkap mereka di Kembangan, Jakarta Barat. (Baca: Kronologi Penangkapan Hercules dan Gerombolannya)

    ATMI PERTIWI

    Berita Lainnya:
    Harlem Shake di Serie A, Juventus 'Korban' Pertama
    Rambut Palsu Terlepas,Perampok Lari Terbirit-birit
    Beragam Aplikasi Pesan Instan dari Asia
    Liputan Densus 88, Nyawa Ditanggung Sendiri


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    OTT Bupati Kolaka Timur, Simak Fakta Penangkapan dan Profil Andi Merya

    Bupati Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, Andi Merya Nur, ditangkap KPK dalam OTT. Ia diduga menerima suap yang berhubungan dengan dana hibah BNPB.