Senin, 19 Februari 2018

Si Conat, Preman Betawi Era VOC  

Oleh :

Tempo.co

Minggu, 17 Maret 2013 08:51 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Si Conat, Preman Betawi Era VOC  

    Ilustrasi preman. Photo-dictionary.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Pada pertengahan abad ke-19, sekitar tahun 1800, Jakarta masih bernama Batavia. Kala itu, perusahaan dagang Verenigde Oostindische Compagnie atau VOC yang mengatur dan menguasai Nusantara. Bermarkas di Batavia, VOC membuat pelbagai kebijakan yang mencekik leher rakyat. Seperti tanah partikelir atau tanah yang dimiliki para tuan tanah.

    "Tuan tanah kebanyakan orang Belanda," kata pengamat kebudayaan Betawi, Yahya Andi Saputra, Jumat, 15 Maret 2013. "Mereka menarik pajak seenaknya dan menyuruh centeng mengambil hasil panen rakyat."

    Masyarakat pada waktu itu sungguh tertindas. Hingga ada perlawanan rakyat berupa kemunculan preman yang menentang kebijakan VOC. Di mata Belanda, kata Yahya, preman ini adalah perampok, orang yang membuat resah keamanan. Sedangkan bagi orang kampung Betawi, para preman berjasa membantu rakyat.

    Preman yang terkenal kala itu adalah si Conat. Kata Yahya, si Conat beredar di wilayah Kebayoran Lama hingga Tangerang. Sejak usia belia, ia terkenal bernyali. Si Conat tak takut merampok, mencuri sapi, hingga membunuh. "Kalau zaman sekarang ibarat pencurian dengan pemberatan," kata dia.

    Pada masa yang sama, muncul preman lain bernama Angkri. Beda dengan si Conat, Angkri menguasai daerah pantai utara: Marunda, Priok, dan Ancol. "Sama seperti si Conat, Angkri ini mencuri untuk menolong orang miskin," ujar Yahya.

    CORNILA DESYANA

    Baca juga
    EDISI KHUSUS: Hercules dan Premanisme
    Hercules, dari Dili ke Tanah Abang

    Kantor Tempo Diserang

    Hercules, dari Dili ke Tanah Abang


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    JR Saragih dan 4 Calon Kepala Daerah Terganjal Ijazah dan Korupsi

    JR Saragih dicoret dari daftar peserta pemilihan gubernur Sumut oleh KPU karena masalah ijazah, tiga calon lain tersandung dugaan korupsi.