Deposito Dana Banjir Rp.3,6 M Belum Dialihnamakan ke Pemda DKI

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Dana banjir senilai Rp.3,6 miliar yang sebelumnya didepositokan atas nama Indonesian Civic Education (ICE) on Indonesia belum dialihkan kepada Pemda DKI. Padahal, pengalihan nama deposito dana banjir yang bunganya disalurkan untuk bantuan pendidikan ini, seharusnya sudah dilakukan Desember 2002 lalu. Menurut Juru Bicara Pemda DKI Muhayat, mundurnya jadual pengalihan rekening deposito atas nama ICE on Indonesia ke Pemda DKI ini, murni karena alasan teknis perbankan. Tanggal jatuh tempo deposito tersebut adalah 22. Namun, Desember lalu, perjanjian pengembalian dana belum selesai sehingga rekening deposito itu belum bisa dialihkan sampai tanggal 22 Januari mendatang. Setelah itu baru bisa dipindahkan atas nama Pemda DKI, tapi dokumen-dokumennya sudah diserahkan ke Pemda, kata Muhayat di Balai Kota DKI Rabu (8/1). Muhayat menambahkan, setelah namanya dipindahkan ke Pemda DKI, bunga deposito itu tetap akan dipakai untuk dana bantuan pendidikan bagi masyarakat yang tidak mampu. Apa yang sudah menjadi komitmen antara ICI on Indonesia dengan masyarakat tetap akan diteruskan,kata Muhayat. Berbeda dengan Muhayat, Gubernur Sutiyoso tampaknya belum tahu soal penyerahan dokumen-dokumen deposito dari ICE on Indonesia ke Pemda DKI. Sepengetahuan Sutiyoso, perjanjian pengembalian deposito itu seharusnya sudah selesai dalam minggu ini. Tapi masalah ini sudah saya serahkan ke asisten kesejahteraan masyarakat (Askesmas),kata Sutiyoso. Dana yang dialihkan namanya kepada pemda DKI adalah deposito senilai Rp.3,6 miliar. Sedangkan pertanggungjawaban dana sebesar Rp.600 juta yang sudah disalurkan dari total dana bantuan banjir senilai Rp.4,2 milyar, akan diserahkan pada proses hukum yang sedang berjalan. (Dimas Adityo-Tempo News Room)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.