Plus-Minus Jokowi Jadi Capres 2014

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Tempo/Aditia Noviansyah

    Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Tempo/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia Dodi Ambardi mengatakan, Gubernur Joko Widodo cukup berpeluang untuk maju sebagai calon presiden 2014. Sejumlah hasil survei capres 2014 menunjukkan Jokowi berpeluang menang Pemilu. "Momentum besar buat dia," katanya kepada Tempo.

    Menurut Dodi, posisi Jokowi sebagai terpopuler dalam sejumlah lembaga survei memberikan keuntungan. Popularitas Jokowi makin melejit setelah berhasil menjadi Gubernur DKI Jakarta September 2012. Bagi kalangan politisi, kata dia, ini adalah momentum yang tepat bagi Jokowi untuk menjadi presiden. (Baca:Jokowi Calon Presiden Alternatif Paling Potensial)

    "Belum tentu tahun 2019 dia bakal tetap populer dan memiliki momentum seperti ini," kata Dodi.

    Sesuai survei BPS tahun 2010, jumlah masyarakat perkotaan di Indonesia mengalami peningkatan sebesar 10 angka menjadi 50 persen. Kondisi itu membuat peluang Jokowi untuk menjadi presiden terbuka lebar. Namun, Jokowi bisa terganjal dengan janjinya untuk menuntaskan lima tahun masa jabatan gubernur DKI Jakarta. Lawan politik akan menuding Jokowi melanggar janjinya. Publik juga kemungkinan menilai Jokowi tidak konsisten dengan ucapannya.

    Selain itu, publik yang berpendidikan--basis utama pendukung Jokowi--cenderung menyukai pemimpin yang benar-benar merintis karir politiknya. Karir politikus yang ideal, kata Dodi, adalah orang yang benar-benar memulai karirnya dari tingkatan terkecil. Ini mirip dengan perjalanan politik Presiden Amerika Serikat Barrack Obama. (Baca: Kongres Dukung Jokowi Presiden 2014 di Bandung)

    Dodi menjelaskan, Obama memulai karir politiknya dengan menjadi aktivis lingkungan. Setelah itu, dia menjadi aktivis tingkat kota hingga akhirnya menjadi senator negara bagian. Di mata publik, politikus itu sudah terbukti pada tingkatan yang lebih kecil sebelum menjadi presiden.

    Jokowi hingga saat ini dinilai belum menghasilkan perubahan yang berarti di Jakarta. Program kerjanya sebagai gubernur masih belum bisa dinilai karena masa jabatannya masih terlalu singkat. Saat ini, masih terdapat keraguan apakah Jokowi mampu membenahi masalah banjir dan macet yang sudah akut di ibukota.

    "Dia saat ini adalah unproven leader, pemimpin yang belum terbukti kerjanya," katanya. Begitu pun saat menjadi Wali Kota Solo. Banyak pihak yang menilai bahwa keberhasilan Jokowi sebagai wali kota tidak lepas dari peran wakilnya, FX Rudi Hadyatmo.

    Karena itu, Jokowi diminta untuk membuktikan dulu keberhasilan sebagai pemimpin sebelum memutuskan menjadi presiden. "Memang harus mengambil risiko. Kalau berhasil di Jakarta prospeknya sangat kuat, tapi kalau gagal momentum yang sangat bagus akan lewat," ujarnya. (Baca: Publik Setuju Jokowi Nyapres dan Ini Jawaban Jokowi soal Calon Presiden 2014)

    DIMAS SIREGAR

    Berita Lainnya:
    Persib vs Persija Batal, Bobotoh Blokir Pintu Tol
    Basuki: Jakarta Bukan Hanya untuk Orang Kaya  
    Macet 'Gila' di Perayaan Ulang Tahun Jakarta  
    Menteri Bagi BLSM, PKS: Mereka Bukan Kader Partai  
    Jokowi-Ahok Dikerjai Deddy Corbuzier
    Jakarta Ulang Tahun, Pidato Jokowi Bertabur Pantun  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Anwar Usman dan 8 Hakim Sidang MK dalam Gugatan Kubu Prabowo

    Mahkamah Konstitusi telah menunjuk Anwar Usman beserta 8 orang hakim untuk menangani sengketa pemilihan presiden 2019.