Ahok Kecewa dengan PKL

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga memadati Kawasan Bundaran Hotel Indonesia saat perayaan HUT ke-486 Kota Jakarta,di Jakarta, Sabtu (22/6). ANTARA/Wahyu Putro A

    Warga memadati Kawasan Bundaran Hotel Indonesia saat perayaan HUT ke-486 Kota Jakarta,di Jakarta, Sabtu (22/6). ANTARA/Wahyu Putro A

    TEMPO.CO , Jakarta:Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Thajaja Purnama menyayangkan sikap pedagang kaki lima yang telah dilibatkan dan diberi tempat dalam malam perayaan Ulang Tahun Jakarta ke-486 di Lapangan Monumen Nasional Jakarta, Sabtu lalu. Kebanyakan dari mereka disebutnya tak membereskan kembali sampah yang mereka hasilkan sepanjang keberadaannya di lapangan itu.

    "Sekitar 95 persen pedagang kaki lima tidak bertanggung jawab," ujar Basuki di Balai Kota Jakarta, Selasa 25 Juni 2013. Basuki—yang juga kerap disapa Ahok—berharap pedagang bisa lebih tertib dalam acara serupa pada masa mendatang. "Kami lagi berpikir mereka memakai badge supaya tidak bisa sembarangan orang masuk berjualan." 

    Dengan cara itu, pedagang kaki lima di Jakarta akan lebih terseleksi. Apalagi, kata Ahok, sekitar 70 persen pedagang kaki lima di Jakarta bukan penduduk asli Ibu Kota. "Tidak apa-apa bukan orang Jakarta, tetapi kami harus ajarin adat juga, 'Lu kalo mau ke Jakarta jangan buang sampah sembarangan," katanya. 

    Pemerintah DKI menyatakan memperjuangkan para pengusaha atau pedagang kecil untuk bisa mendapat tempat di arena pameran-pameran. Pemicunya adalah pagelaran Jakarta Fair di Kemayoran yang dianggap telah menyimpang dan tidak memberi banyak tempat bagi para pedagang itu.

    SUTJI DECILYA

    Terpopuler

    Ada Caleg Bekas Model Porno dan Temperamental
    Soal Asap, SBY Sesalkan Komentar Anak Buahnya
    Menteri Dilarang ke Luar Kota, Nasib Suswono?
    Armand Maulana: Kenapa Roy Suryo Jadi Menteri  
    Jangan Heboh Soal Foto Bastian Coboy Junior


     



     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Macam Batal Puasa

    Ada beberapa macam bentuk batalnya puasa di bulan Ramadan sekaligus konsekuensi yang harus dijalankan pelakunya.