Calo SIM Dibasmi, Tapi Tetap Dicari

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Seto Wardhana

    TEMPO/Seto Wardhana

    TEMPO.CO, Jakarta-- Keberadaan calo yang biasa berkeliaran di Satpas Polda Metro Jaya makin sedikit. Jika mereka biasanya bebas berkeliaran di sekitar gedung, kini keberadaan mereka hampir tidak terlihat. Para calo itu pun hampir tidak terlihat di dalam gedung pembuatan Surat Izin Mengemudi. Tapi tetap saja keberadaan mereka tetap dicari para calon pemilik SIM.

    Pantauan Tempo, keberadaan para calo itu kini sudah tidak ada di sekitar gedung seperti biasanya. Perantara yang jumlahnya kini makin sedikit itu kebanyakan berada di depan gedung pembuatan SIM, menunggu didatangi calon pemilik SIM.

    Mereka kini tak lagi secara terang-terangan menghampiri calon pelanggannya karena sejumlah alasan. Salah satunya adalah prosedur dari pihak kepolisian yang lebih ketat menggelar seleksi pembuatan SIM tersebut.

    Al Amin, 27 tahun, mengaku senang dengan semakin sedikitnya para calo. Tapi dia mengaku tetap bakal menggunakan jasa para calo tersebut. Soalnya, bantuan dari calo itu membuat proses pengurusan SIM jadi lebih mudah. "Bagus sih tidak ada calo, tapi saya tetap menggunakan jasa calo," katanya saat ditemui, Kamis,n 11 Juli 2013.

    Menurut Amin, uji kepemilikan SIM oleh polisi sangat sulit untuk dijalankan. Banyaknya ujian yang harus dilewati membuat ujian SIM, kata dia, sering menjadi sia-sia. Soalnya, setiap peserta tes harus melewati empat tahapan sebelum dinyatakan layak mengendarai kendaraan bermotor. Gagal pada satu tes saja, maka peserti itu tidak diperkenankan mengikuti ujian berikutnya. Dia harus kembali esok harinya dan mengikui ujian dari awal.

    "Daripada ribet-ribet kalau salah ulang lagi, mendingan dari awal; pakai calo," katanya. Dia pun siap merogoh uang sebesar Rp 500 ribu untuk mendapatkan SIM golongan C bagi pengendara motor.

    Adapun menurut Ikhsan Septiana, warga Srengseng, Jakarta Barat, juga mengaku lebih senang menggunakan jasa calo. Meski mahal, dia tidak harus memakan waktu lama untuk mengikuti tahapan tes dari polisi. "Lebih cepat and tidak ribet," katanya.

    Bersama dua orang temannya, mereka pun sepakat untuk menggunakan jasa para calo. Mereka pun memang sengaja mencari keberadaan para calo meski jumlahnya tidak sebanyak dulu. Mereka bertiga disebutnya harus mengeluarkan uang sebesar Rp 1,5 juta untuk mendapatkan tiga SIM golongan C.

    Sedangkan menurut salah seorang calo yang mengaku bernama Dikara, 35 tahun, dia memang suka memberikan jasa pembuatan SIM kepada calon pemilik SIM. Mereka pun kini mengaku sudah tidak bisa seleluasa dulu untuk menawarkan jasa pembuatan SIM kepada masyarakat. "Kalau dulu kan bebas, tapi kalau sekarang lebih susah," katanya.

    Meski begitu, dia mengaku tetap saja bisa mendapatkan pelanggan untuk membuatkan SIM. Dia menyatakan keberadaan para calo juga tetap dicari oleh masyarakat yang tidak ingin berlama-lama mengurus SIM. Karena itu, dia pun tidak segan untuk mematok tariff Rp 500 ribu untuk SIM golongan C dan Rp 800 ribu untuk SIM golongan A atau untuk mobil.

    "Sehari bisa dapat satu orang, kadang dua kalau memang lagi banyak," katanya.

    Sementara itu, Perwira Administrasi SIM Satpas Polda Metro Jaya inspektur Satu Efri mengakui jika masih ada beberapa calo yang berkeliaran di sekitar kantornya. Menurutnya, para calo itu memang sengaja mencari orang yang tidak ingin mengikuti proses pembuatan SIM sesuai aturan. "Satu dua mungkin masih ada, tapi tidak semasif beberapa tahun lalu," ujar dia.

    Efri mengatakan, polisi sudah memberlakukan sistem baru berupa pengurusan SIM melalui satu pintu. Sistem itu disebutnya melibatkan langsung masyarakat yang ingin membuat SIM dengan petugas yang memberikan pelayanan.

    Bagi masyarakat, kata dia, sistem itu mengharuskan pemohon SIM untuk menandatangi sejumlah berkas dan mengikuti ujian secara langsung. Selain itu, masyarakat juga bakal dikenakan biaya pengurusan SIM dengan cara membayar langsung melalui rekening bank mereka. "Kalau akses bank mau tidak mau harus dari pemohon, karena itu akun dia," ujarnya.

    Sedangkan untuk polisi, sistem itu membuat petugas polisi memiliki tanggung jawab untuk mendapatkan kredit poin. Sistem kredit poin itu otomatis bakal melacak jika ada anggota polisi yang mencoba berhubungan dengan calo untuk memberikan SIM. "Target pencapaian mereka pasti akan terekam kalau sengaja keluar dari tempat kerjanya dan pergi mengurus SIM," katanya.

    Dia pun mengatakan bakal menindak tegas para calo yang tertangkap tangan sedang membantu pemohon SIM melalui jalan pintas. Mereka bakal diberi hukuman berupa surat perjanjian agar tidak mengulangi perbuatannya. "Begitu juga dengan oknum polisi, dan masyarakat silakan melapor kalau ada praktek percaloan sehingga bisa ditindaklanjuti," ujarnya.

    DIMAS SIREGAR



    Topik terhangat:

    Ramadan
    | Bursa Capres 2014 | Ribut Kabut Asap | Tarif Progresif KRL | Bencana Aceh

    Berita lain:
    Muatan Porno di Buku SD, Sanksi ke Penerbit Lemah

    Kepolisian Lembaga Terkorup, Polri Menjawab

    Inilah Pesawat Teraman dan Paling Bahaya di Dunia

    Cicil Denda, Susno Duadji Jual Rumah Mewah

    Pelajaran 'Porno' Anak Gembala dan Induk Srigala


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H