Jokowi: Pengolahan Sampah Bantar Gebang Mahal

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jokowi Blusukan ke Taman Hutan Kota Penjaringan, Jakarta Utara. Dok/Linda Trianita

    Jokowi Blusukan ke Taman Hutan Kota Penjaringan, Jakarta Utara. Dok/Linda Trianita

    TEMPO.CO, Jakarta -- Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengakui biaya pengangkutan sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA) Bantar Gebang, Bekasi, terlalu mahal. Biaya pengangkutan atau tiping fee ke Bantar Gebang mencapai Rp 114.000 per ton.

    "Makanya akan ada tempat pengolahan sampah terpadu," kata Jokowi, sapaan akrab wali Kota Solo ini, di Balai Kota pada Rabu, 17 Juli 2013. Angka ini memang terlalu mahal karena jumlah sampah di Jakarta mencapai 5.500-6.000 ton per hari.

    Jokowi mengatakan dengan dibangunnya tempat pengelolaan sampah terpadu biaya pengangkutan bisa ditekan. Menurut dia proyek pengelolaan terpadu yang segera berjalan adalah Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter, Jakarta Utara.

    Saat ini proyek ITF Sunter sudah masuk tahap beauty contest internal lelang terakhir. Yaitu tahap penawaran harga kepada para kontraktor. Harga Perkiraan Sendiri (HPS) untuk tipping fee yang dibayarkan untuk satu ton sampah di ITF maksimal Rp 400 ribu.

    Dari sekitar 40-an kontraktor yang mendaftar pada awal saat ini tersisa tiga. Mereka adalah PT Wira Gulfindo Sarana yang bekerja sama dengan PT Ramky dari India, PT Jakarta Green Initiative dengan Hitachi dari Jepang, dan PT Phoenix Pembangunan Indonesia yang menggandeng Keppel Seghers dari Singapura.

    Ketiga konsorsium tersebut terpilih setelah diaudit finansial perusahaannya oleh Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah perusahaan tersebut mampu dalam menangani proyek senilai Rp 1,3 triliun tersebut.

    Jokowi mengatakan dengan pembangunan ITF Sunter ini maka pengolahan sampah tidak akan terpusat di Bantar Gebang lagi. Karena proyeksinya Bantar Gebang yang sudah sejak 2003 di digandeng Jakarta akan menjadi tempat pembuangan sampah regional.

    "Dalam waktu dekat ini akan diputuskan pemenangnya untuk ITF Sunter," ujar Jokowi. Permasalahan pengelolaan sampah terpadu ini pun diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 3 tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah. Dalam Pasal 55 Perda tersebut dijelaskan bahwa pembangunan pengelolaan sampah terpadu bisa menggandeng badan usaha.

    Jokowi mengatakan selain ITF Sunter yang dapat menampung 1.200 ton sampah per hari akan ada ITF Marunda dan Cilincing kemudian di Duri Kepa, Jakarta Barat. Masing-masing mampu menampung sampah 1.000 sampai 1.500 ton per hari.

    Targetnya lima tahun mendatang semua ITF ini siap digunakan. Sehingga mendatang Jakarta akan mengelola 70 persen sampahnya secara mandiri. Sisanya baru dikirim ke Bantar Gebang.

    Rencananya, ITF Sunter akan menggunakan teknologi incenerator atau pembakaran yang menyisakan residu sekitar 10 persen dari total sampah yang diolah. Selain itu Incinerator mampu menghasilkan listrik yang tinggi yaitu 14 Megawatt per 1.000 ton sampah.

    SYAILENDRA

    Terhangat:

    Hambalang  | Bursa Capres 2014 | Liverpool di GBK


    Baca juga:

    Dahlan Iskan Minta Investasi Yusuf Mansur Ditutup

    Sutradara Despicable Me Ternyata Anak N.H. Dini

    Yusuf Mansur Bantah Investasi Miliaran di Mekah

    Jokowi: Nama Saya Siapa? Anak Kecil: Sukowi!


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.