Makna 'Anak Wilayah' di Pasar Tanah Abang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para pedagang melengkapi formulir dan kupon undian pada saat pengundian relokasi pedagang Blok G Pasar Tanah Abang di Kantor Walikota Jakarta Pusat,  (19/8). ANTARA/Nizar Arsyadani

    Para pedagang melengkapi formulir dan kupon undian pada saat pengundian relokasi pedagang Blok G Pasar Tanah Abang di Kantor Walikota Jakarta Pusat, (19/8). ANTARA/Nizar Arsyadani

    TEMPO.CO, Jakarta - Sepanjang proses verifikasi pedagang kaki lima (PKL) yang berhak mendapatkan kios di Blok G Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, terbantu dengan adanya "anak wilayah". Beragam makna pun bermunculan dari istilah "anak wilayah".

    Mulai dari preman sampai pedagang yang telah berjualan di wilayah tertentu untuk jangka waktu panjang. Taufik, 37 tahun, yang turut menjadi bagian dari tim verifikasi, mengaku kurang senang dengan istilah "anak wilayah". "Kalo begitu maknanya terlalu luas," katanya kepada Tempo, Kamis, 22 Agustus 2013.

    Menurut Taufik, yang dimaksud dengan anak wilayah dalam membantu proses verifikasi pedagang kaki lima adalah pedagang secara turun temurun telah lama berjualan di sekitar kawasan Tanah Abang. "Kita ini orang wilayah yang berjualan dari K.H. Mas Mansyur sampai Pasar Jati," kata pedagang pakaian muslim itu.

    Taufik mengungkapkan, dia masuk ke dalam tim verifikasi karena diminta oleh pemerintah daerah setempat untuk mengakomodir para pedagang kaki lima di sekitar Kebon Kacang dan RW 09 agar mau direlokasi ke Blok G. "Saya sosialisasi ke para pedagang," ujar pria yang mengenakan baju koko itu.

    Dari wilayah Kebon Kacang dan RW 09, Taufik menyebutkan sedikitnya ada 300 pedagang yang terdata. Selama proses verifikasi, Taufik mengaku dengan begitu mudahnya mengetahui pedagang asli Tanah Abang atau bukan. "Kita sudah hafal nama, alamat, dan muka," ucap Taufik. "Ini loh pedagang Kebon Kacang."

    Setelah pendaftaran dan verifikasi pertama berakhir, tugas Taufik pun usai. Namun, dia tetap berusaha membantu para pedagang Kebon Kacang yang belum terdaftar ulang di tahapan kedua. "Kita coba tanya, mungkin gak masuk," ujar pria yang ditemani tiga sahabatnya itu. "Tapi, kenyataan sudah ditutup."

    Sebelumnya, salah satu anggota tim verifikasi, Aris, mengaku sebagai mantan preman Tanah Abang. Sebelum penataan Tenabang, Aris bersama enam orang rekannya mengurus sekitar 40 pedagang kaki lima yang berada wilayah kekuasaannya. Biasanya, dalam sebulan, Aris bisa meraup uang sampai Rp. 2 juta.

    SINGGIH SOARES

    Berita Lain:
    Kapal Ekspres Bahari Terbakar, Ibu dan Bayi Tewas

    Baku Tembak dengan Polisi, Pencuri Motor Tewas 

    Jaminan Tiket, Penumpang Tanah Abang: Ribet  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Pemberantasan Rasuah Indonesia di Hari Antikorupsi Sedunia

    Wajah Indonesia dalam upaya pemberantasan rasuah membaik saat Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Inilah gelap terang Indeks Persepsi Korupsi di tanah air.