Jakarta Pegang Rekor Penurunan Muka Tanah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pelari saat mengikuti Jakarta Marathon di Kawasan Monas, Jakarta, Minggu (27/10). Jakarta Marathon memperlombakan beberapa kategori diantaranya full marathon (42,195 kilometer), half marathon (21 km), 10 K, dan 5 K. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    Sejumlah pelari saat mengikuti Jakarta Marathon di Kawasan Monas, Jakarta, Minggu (27/10). Jakarta Marathon memperlombakan beberapa kategori diantaranya full marathon (42,195 kilometer), half marathon (21 km), 10 K, dan 5 K. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Ahli teknik lingkungan, Firdaus Ali, mengatakan penurunan permukaan tanah di Jakarta merupakan yang tertinggi di dunia. Rata-rata permukaan tanah di Ibu kota menurun hingga 10,8 sentimeter setiap tahun. 

     Di Jakarta Utara, laju penurunannya bahkan lebih ekstrim, hingga 28 sentimeter per tahun. "Itu terjadi di sepanjang pesisir Jakarta," kata Firdaus, ketika dihubungi, Jumat, 22 November 2013. Di tempat lainnya, ada yang laju penurunannya hanya 2 sentimeter per tahun. 

     "Sekarang Jakarta pemegang rekor tertinggi di dunia, menggantikan Mexico City, Yokohama, dan Bangkok," kata Firdaus. Jika dibiarkan, permukaan laut pada 2050 bisa berada di kawasan Harmoni, Jakarta Pusat. "Skenario terburuknya bahkan permukaan air laut bisa berada di Pacific Place," katanya. 

     Kondisi itu terjadi karena Jakarta Utara memang merupakan delta yang berada di muara sungai. Selain itu, aktivitas tektonik ikut berpengaruh. "Tetapi yang paling besar pengaruhnya adalahnya eksploitasi air tanah dalam," kata Firdaus. 

     Pengambilan air tanah di kedalaman lebih dari 60 meter biasanya dilakukan oleh industri perhotelan, pusat belanja, dan apartemen. Sebab, air PAM saat ini baru bisa memenuhi 33 persen kebutuhan warga Jakarta. 

     Sementara air tanah dangkal mudah digantikan oleh air hujan, air tanah dalam sulit diisi ulang. Karena itu, kata Firdaus, pemerintah perlu menegakkan aturan tentang kewajiban memiliki fasilitas daur ulang air di hotel, pusat belanja, dan apartemen. 

     Pembangunan tanggul laut raksasa juga diharapkan bisa menekan laju penurunan tanah dan naiknya permukaan air laut. Megaproyek di utara Jakarta itu diperkirakan bakal menelan dana sekitar Rp 500 triliun, dan ditargetkan rampung pada 2030. Namun sebelumnya pemerintah akan lebih dulu memperkuat tanggul-tanggul di bibir pantai Jakarta. 

     Kepala Dinas Pekerjaan Umum Manggas Rudy Siahaan mengatakan anggaran pembuatan tanggul itu masuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah DKI Jakarta 2014. "Tetapi jumlahnya belum pasti," katanya di Balai Kota, Jumat, 22 November 2013. 

    ANGGRITA DESYANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.