Ahok: Saya Hanya Pemain Figuran

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Gebenur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Tempo/Dian Triyuli Handoko

    Wakil Gebenur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Tempo/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, JakartaWakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dikenal dengan pernyataan-pernyataan kontroversialnya. Perannya dalam pemerintahan juga bisa dikatakan sama besar dengan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Berbagai rapat selalu mewarnai hari kerjanya. Biasanya sejak pukul 08.00 WIB, bahkan hingga pukul 20.00 WIB.

    Tetapi ketika ditanya dalam diskusi salah satu komunitas blogger, pria yang akrab disapa Ahok itu memilih merendah. Dia justru menjelaskan kiat bekerja rukun dengan Jokowi.

    "Tugas saya itu membuat Pak Jokowi sukses, saya kan hanya pemain figuran," katanya di Grand Indonesia, Sabtu, 23 November 2013. "Saya posisikan diri sebagai staf pribadi beliau yang paling dipercaya." 

    Oleh sebab itu, tak masalah jika beban dia sama berat atau bahkan lebih besar ketimbang Gubernur. Hanya saja, bintang utama dalam pemerintah haruslah tetap Jokowi. "Biar gimanapun, saya kan hanya pemeran pembantu pria, jangan berharap dapat nominasi bintang utama, dong," katanya.

    Partai juga tak perlu menitip-nitipkan proyek kepada pemerintah. "Kalau ada saran ya langsung saja sampaikan, tidak perlu titip-titip, kalau mereka sumbang saran membangun Jakarta kan bisa numpang beken juga," ujar mantan Bupati Belitung Timur itu. 

    ANGGRITA DESYANI

    Topik Terhangat
    Penyadapan Australia | Vonis Baru Angelina | Adiguna Sutowo | Topan Haiyan | SBY Vs Jokowi |

    Berita Lain
    Kontroversi dan Diskriminasi Waria
    KA Pangrango Tambah Satu Gerbong Eksekutif 
    Dana Penanggulangan Banjir Jakarta Timur Naik 
    Cuaca Buruk, Tangkapan Nelayan Menurun Drastis  

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.