Marunda, Pantai Publik yang Belum Cantik  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pantai Marunda. TEMPO/Tony Hartawan

    Pantai Marunda. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo pernah merencanakan wisata pantai gratis bagi warganya, yaitu di Pantai Publik Marunda. Namun sayangnya, sampai saat ini kondisi pantai belum sesuai harapan warga.

    Fasilitas di pantai ini masih apa adanya. Hampir semuanya dikelola oleh warga sekitar seperti tempat makan, toilet, parkir sampai wisata perahu. Belum terlihat ada tangan pemerintah selain peninggian sebuah bendungan yang dibangun untuk menahan air rob pada tahun 2008.

    Kasman (33), pedagang di kawasan tersebut menyayangkan hal tersebut. Padahal, menurut dia, kawasan ini selalu ramai dikunjungi warga setiap harinya. "Apalagi Sabtu Minggu, ramai sekali," kata dia saat ditemui di lapaknya yang ada sisi bendungan Ahad, 24 November 2013. Dia menyebutkan, bisa ratusan orang yang berkunjung ke sini di akhir pekan.

    Menurut Kasman, wacana "renovasi" pantai Marunda sudah lama didengarnya. Dia mengaku akan menerima jika pemerintah akan menggusur rumahnya untuk mempercantik kawasan ini. "Ya tidak apa-apa asal diberi tempat baru," kata dia. Rumah Kasman, memang terletak cukup dekat dengan bibir pantai yang dibatasi bendungan. Tak lebih dari 50 meter.

    Justru, kata Kasman, dia mengharapkan pemerintah segera berbuat sesuatu terhadap pantai ini. "Jika lebih bagus, pengunjung bisa lebih ramai," kata dia. Perekonomian warga sekitar pun bisa membaik. Warga sekitar yang berbisnis di sini rata-rata adalah nelayan yang harus berhenti melaut ketika musim angin barat tiba seperti sekarang. "Sudah tak melaut, kalau kami tak begini (berdagang), mau makan apa," ujar dia.

    Di bibir bendungan, memang berjajar warung-warung yang terbuat dari bambu yang menjajakan beraneka makanan. Para pedagang pun menyediakan kursi-kursi bagi para pengunjung untuk menikmati pemandangan laut sambil menyicipi makanan.

    Pemandangannya tak terlalu indah. Sampah-sampah mengambang di sisi-sisi bendungan. Botol plastik, buah kelapa, stereofom, plastik pembungkus dan semacamnya. Akibatnya, bau tak sedap pun kadang menyeruak. Ditambah dengan bau amis yang berasal dari tambak di sekitar pantai. Warung-warung yang berjajar pun tidak tertata rapi. Apalagi rata-rata terbuat dari bambu. Jembatan yang menuju kawasan pantai pun terbuat dari bambu-bambu yang sudah reot.

    Dalam kurun waktu tertentu, pungutan dilakukan kepada para pemilik warung. "Untuk bagusin jembatan," kata Kasman. Dia kerap memberi sekitar Rp 5.000-10.000 setiap ada yang datang menagih. "Tak apa untuk kepentingan bersama," ujar dia.

    Pengunjung yang masuk ke pantai ini memang tidak dikenakan biaya. Pembayaran hanya dilakukan saat pengunjung memarkir kendaraan yang dibawanya. Tarifnya sekitar Rp 5.000 untuk roda dua, dan sekitar Rp 10.000 untuk roda empat. Parkiran itu dikelola juga oleh warga sekitar. Warga sekitar mengharapkan pemerintah segera merealisasikan janjinya yang ingin membuatkan wisata gratis bagi warganya.

    NINIS CHAIRUNNISA



    Baca juga:

    Ini Tingkah Jokowi Diteriakin, 'Nyapres Pak!'

    Takut Pencitraan, Ahok Ogah ke Kantor Naik Angkot

    Pengerukan Waduk Beres, Grogol Bebas Banjir

    Lepas Gerak Jalan Guru, Jokowi Pakai Kaus Slank


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Uji Praktik SIM dengan Sistem Elekronik atau e-Drives

    Ditlantas Polda Metro Jaya menerapkan uji praktik SIM dengan sistem baru, yaitu electronic driving test system atau disebut juga e-Drives.