Soal Monorel, Jokowi Minta Bantuan Pusat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo melihat interior kereta monorel yang dipamerkan di kawasan Monas, Jakarta, Rabu (26/6). Pameran akan berlangsung dari tanggal 22 Juni hingga 7 Juli 2013 mendatang. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo melihat interior kereta monorel yang dipamerkan di kawasan Monas, Jakarta, Rabu (26/6). Pameran akan berlangsung dari tanggal 22 Juni hingga 7 Juli 2013 mendatang. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengatakan pembangunan proyek transportasi massal monorel tak bisa hanya ditangani oleh Ibu Kota. Soalnya, meski berada di Jakarta, pembangunannya banyak bersinggungan dengan wilayah lain seperti Tangerang dan Bekasi.

    "Makanya perlu dikoordinasikan langsung oleh pemerintah pusat, kalau saya kan tidak bisa," kata Jokowi seusai acara silaturahmi dengan pengurus RT, RW, PKK, LMK, dan Karang Taruna di Istora Senayan, Jakarta Pusat, Ahad, 1 Desember 2013.

    Dia meminta agar pembangunan monorel itu dikoordinasi oleh pemerintah pusat di bawah Otoritas Transportasi Jabodetabek. "Kerjanya dibagi, mana bagian Jakarta, Bekasi, Depok. Kalau duitnya kurang, dikasih sama pemerintah pusat," katanya sambil tertawa.

    Rencananya, monorel di Jakarta akan terdiri atas dua jalur, yaitu jalur hijau yang membentang dari Sudirman Dukuh Atas-Setiabudi Utara-Kuningan Sentral-Taman Rasuna-Casablanca-Gran Melia-Gatot Subroto-Satria Mandala-Komdak-SCBD-Gelora Bung Karno-Jalan Asia Afrika-Stadion Madya-Palmerah-Karet-Dukuh Atas. Sementara jalur biru yakni Kampung Melayu-Tebet-Kuningan-Casablanca-Tanah Abang-Roxy-Taman Anggrek (Jakarta Barat) dengan tambahan jalur ke wilayah timur dari Pondok Kelapa-Sentral Timur Jakarta dan ke barat dari Puri Indah.

    ANGGRITA DESYANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.