Petinju Marangin Diduga Jadi Korban Salah Tembak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Marangin Marbun. REUTERS/Tim Chong

    Marangin Marbun. REUTERS/Tim Chong

    TEMPO.CO, Jakarta - Petinju Marangin Marbun, yang tewas akibat tembakan polisi Sabtu lalu, diduga merupakan korban salah tembak. Hal itu mengacu pada keterangan seorang kerabat korban.

    Menurut dia, insiden yang menewaskan mantan juara nasional kelas super bantam tersebut berawal saat Marangin, 28 tahun, bersama adiknya, Irvan Barita Marbun, mabuk akibat minuman keras. Di daerah Cipondoh, Tangerang, Sabtu dini hari, abang-adik itu mengendarai sepeda motor dan tersenggol pengendara lain. Marangin dan adiknya--yang juga mantan juara tinju nasional--langsung menendang orang itu hingga jatuh dan memukulinya.

    "Korban berteriak 'rampok'," katanya. Kebetulan, ada patroli polisi yang melintas dan meminta Marbun bersaudara menyerah. "Karena panik, mereka kabur." Si kerabat mengatakan, Marangin dan adiknya kabur menggunakan sepeda motor mereka dan tidak menyentuh sepeda motor korban. Ogah melepaskan buruannya, polisi melepaskan tembakan yang mengenai tengkuk Marangin. Dia tewas dalam perjalanan menuju rumah sakit dan Irvan ditahan polisi. Tersangka diberi penangguhan penahanan untuk mengantar jenazah abangnya ke Medan.

    Daud Yordan, sahabat Marangin, juga mendengar cerita yang sama. "Saya yakin dia tidak merampok," katanya kepada Tempo lewat sambungan telepon. Juara dunia kelas ringan versi Organisasi Tinju Dunia, IBO, itu sedang mempersiapkan diri menjelang pertarungan melawan petinju Afrika Selatan, Sipho Taliwe, di Perth.

    Menurut Daud, 26 tahun, Marangin memang temperamental. "Disenggol sedikit pasti langsung ngamuk," ujarnya. Dia paham betul perangai sahabatnya. Dua sekawan itu berkenalan saat mengikuti sebuah turnamen tinju yunior, 12 tahun lalu di Jakarta. Pertemanan mereka semakin mengental saat sama-sama menjalani debut sebagai petinju profesional di Gelar Tinju Indosiar pada 2005.

    Daud menganggap rekannya itu sebagai petinju yang memiliki pukulan keras dan gerak kaki yang lincah. Dari 33 pertarungan, Marangin menang 21 kali dengan sembilan knock out (KO), kalah 11 kali dengan enam KO, dan seri sekali. Hampir semua kekalahannya dituai saat bertanding di luar negeri.

    "Dia memang tidak beruntung," katanya. Cino, julukan Daud, menganggap Marangin terlalu sering dihadapkan pada lawan yang jauh lebih kuat dan dijadikan batu loncatan. Namun, teknik tinju yang mumpuni membuat Marangin kerap mendapat panggilan untuk mendampingi Daud dan Chris John--juara dunia kelas bulu versi Asosiasi Tinju Dunia, WBA--sebagai partner latih tanding.

    Saat menghadapi masalah, Daud melanjutkan, Marangin memang kerap berpaling ke minuman keras. "Biasanya bir," katanya. Selama jadi sparring partner Daud di Sasana Kayong Utara, Sukadana, Kalimantan Barat, Marangin kerap menenggak minuman keras lokal, arak. "Tapi maboknya tidak resek, habis minum palingan dia tidur."

    Marangin, dia melanjutkan, juga tidak pernah melewatkan kebaktian Minggu di gereja. "Dia pantang mengambil apa pun yang bukan haknya," kata Daud.

    Meski pendapatan sebagai petinju tidak menentu, Daud yakin ekonomi Marangin, yang baru memiliki seorang putra, tidak kekurangan. Bambang Supadi, manajer Marangin, menanggung kebutuhan hidupnya, mulai makan, kontrakan, keanggotaan klub fitnes, sampai motor Kawasaki Ninja RR yang digunakan saat kejadian. "Sebulan, lebih dari Rp 3 juta," kata Bambang, 45 tahun.

    Mantan petinju amatir tersebut merupakan pemilik Cah Sragen Boxing Camp di Kalideres, Jakarta Barat, yang mengajak Marangin ke tinju profesional. Sejak itu Marangin berlatih di sasananya. "Rencananya, Januari mendatang, dia akan main lagi di Ring Tinju TVRI," kata Bambang.

    Agenda pertandingan itu menjadi satu topik perbincangan terakhir Daud dan Marangin. Dua hari sebelum kematiannya, Marangin mengirim pesan di Facebook dan mengajak bertemu di Jakarta sekembali Daud dari Australia. Posting itu kini telah Daud hapus. "Saya tidak kuat melihat pesan itu," katanya.

    REZA MAULANA

    Topik terhangat:
    Sitok Dituduh Hamili Wanita HIV/AIDS dan Kondom Kecelakaan Paul Walker Polwan Berjilbab Jokowi Nyapres

    Berita lain:
    Begini Marangin Meniti Karier Profesional
    Bu Pur Panggil Kapolri 'Dik Tarman' 
    9 Gaya Panggung Agnes Monica yang Bikin Heboh
    Sandra Dewi Kepergok Mojok dengan Edgard di Kafe 
    Alasan Ahok Minta Pintu Tol Semanggi I Ditutup 
    Bu Pur di Mata Kapolri Sutarman  



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.