Ini Cerita Miris Tabrakan Kereta Bintaro 1987  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga berkerumun di lokasi kecelakaan KRL menabrak truk tangki bahan bakar di Bintaro (9/12). Tempo/Tommy Satria

    Warga berkerumun di lokasi kecelakaan KRL menabrak truk tangki bahan bakar di Bintaro (9/12). Tempo/Tommy Satria

    TEMPO.CO, Jakarta - Jalur kereta Tanah Abang-Rangkasbitung bisa dibilang angker. Kecelakaan hari ini tidak jauh berbeda dari kecelakaan 1987. Kecelakaan kereta di Bintaro pada 19 Oktober 1987 terjadi hanya karena keteledoran petugas stasiun. Seratus lebih penumpang mengalami nasib nahas. Begini terjadinya tabrakan hebat itu:

    KA 225 jurusan Rangkasbitung-Tanah Abang pukul 05.05 berangkat dari Rangkasbitung. Seperti biasa, penumpang berada di atap gerbong dan berdempetan di dalam lokomotif. Pukul 06.50, kereta tiba di Stasiun Sudimara. Selama lima menit, kereta berhenti di Sudimara untuk menurunkan dan menaikkan penumpang.

    Kemudian petugas PPKA meniupkan pluit atau semboyan 46. Artinya, KA 225 harus melakukan langsir. Waktu itu, KA 225 berada di lintasan tiga dan jalur itu akan dilewati kereta KA 220 yang datang dari Kebayoran Lama pukul 06.46. Petugas mengarahkan KA 225 dipindahkan ke lintasan satu, sedangkan di lintasan dua ada kereta api pengangkut semen milik PT Indocement dari Cibinong.

    Di luar dugaan, pukul 06.55, masinis KA 225 bukanya membawa kereta langsir justru membawa kereta terus bergerak meninggalkan Stasiun Sudimara. Petugas PPKA, Jamhari, langsung berusaha menghentikan kereta. Ia berlari sambil meniupkan pluit memanggil masinis KA 225. Jamhari juga mengibas-ngibaskan bendera merah, yang artinya menyuruh kereta berhenti. Kereta terus melaju, bahkan penumpang yang berada di atap malah menyoraki Jamhari sambil tertawa-tawa.

    Delapan kilometer setelah KA 225 meninggalkan Stasiun Sudimara atau sekitar 10 menit di kilometer 17, KA 225 menabrak KA 220 yang sudah berangkat dari Stasiun Kebayoran Lama.

    Masinis KA 225 mengaku ia baru melihat KA 220 sekitar 30 meter sebelum tabrakan, dan ia tidak sempat mengerem. Waktu itu, KA 225 melaju dengan kecepatan 45 kilometer/jam, sedangkan lawannya, KA 220, bergerak cuma dengan kecepatan 25 kilometer/jam. Hasilnya, 139 korban tewas dan 123 luka berat.

    Evan/ PDAT Smber Diolah Tempo



    Berita Terpopuler Lainnya:
    Ini yang Membuat Mandela Kagum pada Fidel Castro 
    Alasan Obama Ogah Pakai iPhone 
    Deklarasi Capres di Surabaya, Yusril Jadi Gus Yim
    Kronologi Kerusuhan di Little India, Singapura
    Ini Anggaran Gedung Baru KPK


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.